Praise as a LIFE STYLE (Mazmur 150:1-6)
by Kak Dina Mabikafola
Mazmur 150:1-6
(1) Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! (2) Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! (3) Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! (4) Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! (5) Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! (6) Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!
Pagi ini, Rona mendengar kakanya Rina kembali bersenandung, ia memuji-muji Tuhan sambil beraktivitas. Rona sungguh bersukacita mendengarnya karena dia tahu dengan pasti bahwa ketika kakanya bersenandung maka suasana hatinya sedang baik.
Di sisi lain, ketika kakanya sedang marah, kecewa, atau sedih, jangankan bersenandung untuk berbicara saja dia sangat malas, bahkan Rona beberapa kali kena bentakan dan jawaban sinis dari Kakanya saat dia bertanya tentang sesuatu hal.
Mazmur 150 merupakan mazmur yang indah untuk mengakhiri kitab mazmur yang penuh dengan ungkapan hati dan perasaan dari penulisnya
Mazmur 150 berbicara tentang memuji Tuhan dengan sangkakala, kecapi, rebana, tari-tarian, dan berbagai alat musik. Tapi ayat terakhir yaitu ayat yang ke-6 menegaskan sesuatu yang lebih dalam:
“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”
“Segala yang bernafas” — artinya setiap kita yang bernafas
Sebagai remaja, kita suka bernyanyi di kamar, di kamar mandi, di gereja, bahkan sambil scrolling media sosial. Tapi Mazmur 150:6 mengingatkan bahwa bernyanyi bukan cuma soal musik, melainkan respon hidup kepada Tuhan
Kalau kita masih bernafas, berarti kita punya alasan untuk memuji. Artinya, pujian bukan acara mingguan, tapi gaya hidup harian
Apa Itu “Bernyanyi sebagai Gaya Hidup”?
Bernyanyi sebagai gaya hidup berarti:
Tetap memuji Tuhan saat keadaan baik maupun tidak baik, tetap percaya saat keadaan sulit, Mengucap syukur walau doa dan harapan kita belum dijawab
Sebagai anak Tuhan mari kita jadikan menyanyi sebagai gaya hidup,
Bukan cuma suara yang memuji,tapi hati yang bersyukur,pikiran yang positif,dan tindakan yang memuliakan Tuhan.
Mazmur 150 tidak menyebutkan masalah atau keadaan. Artinya, pujian tidak tergantung situasi, seperti Rina kaka Rona diatas, saat keadaan hatinya baik-baik saja dia memuji Tuhan, tetapi saat kecewa, sedih, marah tidak ada pujian keluar dari mulutnya
Sering kali kita memuji Tuhan ketika hidup berjalan baik, saat doa dijawab, saat nilai bagus, saat keluarga damai, atau ketika semuanya terasa lancar. Tetapi bagaimana ketika hidup terasa berat? Ketika masalah datang, hati sedih, atau doa terasa belum dijawab? Sepertinya sangat berat untuk kita memuji Tuhan
Memuji Tuhan dalam keadaan sulit bukan berarti kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Memuji Tuhan saat keadaan tidak baik-baik saja berarti kita memilih percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Kalau hari ini kita masih bernafas, itu alasan yang cukup untuk memuji Dia.
Tuhan mencari hati yang sungguh-sungguh.
Karena itu, selama kita masih bernafas, mari jadikan hidup kita sebagai penyembahan bagi-Nya.
“Saat hati kita sungguh mengasihi Tuhan, maka pujian kita bukan sekadar lagu, tetapi menjadi gaya hidup “Praise as a lifestyle”
Tuhan Yesus Memberkati
