Renungan Teruna, Jumat 27 Februari 2026

LPDP Viral - Hati aman? (1 Samuel 16:7) 

by Kak Dina Mabikafola 

1 Samuel 16:7

Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

Beberapa hari belakang ini Tik-tok diramaikan oleh sebuah video tentang seorang wanita yang merupakan alumni penerima bea siswa Negara LPDP(Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang menjadi viral karena ucapannya yang dinilai kurang mencerminkan rasa bangga terhadap Indonesia.

Dia mengungkapkan keinginannya supaya anaknya bukan warga negara Indonesia, walaupun seharusnya dia menyadari bahwa biaya pendidikan dirinya dan suaminya ditopang oleh negara melalui beasiswa yang dibiayai dari pajak rakyat.

Ucapannya menuai perdebatan di masyarakat bahkan pemerintah Indonesia meminta agar biaya pendidikan yang sudah diterima oleh suaminya untuk dapat dikembalikan kepada Negara.

Kalau sesorang lolos dan dapat beasiswa LPDP, sudah pasti dia pintar kan? Ya, tentu saja, itu sebabnya dia dan suaminya bisa mendapatkan bea siswa, tetapi sayang dia tidak bisa menjaga karakternya dengan baik dan tidak cerdas dalam ber media sosial.

Pelajaran baik apa yang bisa kita ambil? 

Seringkali kita fokus pada pencapaian seperti  nilai yang bagus, bisa memenangkan berbagai macam perlombaan , ikut olimpiade, mengusai banyak bahasa, menguasai olahraga tertentu, bisa sekolah di tempat yang popular, dapat bea siswa.

Tapi Tuhan tidak pernah terkesan hanya dengan prestasi.

1 Samuel 16:7 Firman Tuhan berkata demikian

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Kita bisa pintar, kita bisa berprestasi, tapi kalau hati kita sombong, tidak punya rasa tanggung jawab, tidak punya kasih, tidak punya karakter yang baik semuanya  tidak ada artinya.

Sebagai remaja Kristen kita dipanggil bukan hanya untuk jadi pintar,tapi jadi terang dengan menunjukkan karakter Kristus dalam hidup kita.

Karakter kita dibentuk saat kita dekat dengan Tuhan, saat kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan dan  berdoa secara rutin

Ya Tuhan tidak sedang mencari remaja  yang hanya pintar dan penuh dengan prestasi, tetapi kosong secara rohani. 

Tuhan rindu kita bertumbuh seimbang, cerdas dalam pikiran, tetapi juga lembut dalam hati. Prestasi dan nilai yang tinggi memang membanggakan baik bagi kita, bagi orangtua dan keluarga, tetapi hati yang melekat kepada Tuhanlah yang menyenangkan-Nya.

 Karena ketika hati kita dekat dengan-Nya, keputusan kita akan lebih bijaksana, perkataan kita lebih terjaga, karakter kita baik dan hidup kita menjadi berkat.

Kiranya kita tidak hanya dikenal sebagai Remaja Kristen yang pintar, tetapi sebagai Remaja Kristen yang mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh..Amin

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Kamis 26 Februari 2026

Tuhan, Aku Berubah (Yesaya 55:11) 

by Kak Dina Mabikafola 

Yesaya 55:11

demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Seorang anak remaja bernama Conan kehilangan bola basket kesayangannya, dia mulai mencari ke lapangan tempat dia berlatih tetapi tidak ada, dia mencari di kamarnya, di garasi rumahnya di seisi rumahnya bahkan di sekolah tetap tidak ada.

Conan lalu bertanya kepada teman dekatnya, teman sekolahnya dan keluarganya tidak ada satupun yang melihatnya

Sudah hampir 2 minggu sejak bola itu hilang dan Conan tetap tidak menemukannya, sore itu Conan duduk sendiri sambil berusaha mengingat dan saat itu Conan tersadar ada yang berubah dalam dirinya, biasanya kalau ada barang miliknya yang hilang dia akan marah dengan orang sekitarnya akan murung, akan bĂȘte dan mencarinya dengan penuh emosi .

Tetapi…. sekarang berbeda Conan merasa kalau dia lebih tenang, tidak marah dan emosi dan Conan merasa kalau hilangnya bola basket memberi pembelajarannya baginya untuk lebih berhati-hati dan teliti dalam menyimpan semua barang.

Dalam hatinya Conan berkata…Tuhan ada yang berbeda nih di diri saya, ada yang berubah, saya tidak seperti dulu, kadar emosi sudah mulai turun, bisa berpikir positif disaat keadaan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

 Conan sadar kalau “ Aku berubah” Kadar Sabarnya Naik, Kadar control diri naik, Kadar positif thinkingnya juga naik, Conan melonjak kegirangan “ Praise The Lord” katanya, ini semua karena Tuhan

Ya sudah sejak  2 bulan lalu, Conan ber-komitmen untuk rajin baca Alkitab, awalnya dia merasa kalau sepertinya tidak ada yang berubah dalam dirinya, bahkan saat baca Alkitab kadang dia tidak begitu mengerti apa yang di baca,tetapi saat itu Conan sadar bahwa Firman Tuhan yang dia baca dan renungakn membawa perubahan dalam dirinya.
Conan bertekad untuk lebih tekun membaca Alkitab

Ade-ade apakah ada yang saat ini seperti Conan? rajin baca Alkitab dan  ketika selesai membaca tidak paham atau bahkan sampai sekolah lupa apa yang tadi dibahas
dan apakah ada yang bertanya pada diri sendiri? Kok kayanya aku masih sama yah padahal rajin baca Alkitab?

Firman Tuhan dalam Yesaya 55:11 berkata :

demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

 Seperti Conan, Firman Tuhan yang kita baca tidak akan berlalu begitu saja

Ada perubahan dalam diri Conan dan pasti ada perubahan dalam diri ade-ade, satu saat ade-ade akan menyadarinya bahwa berjalan bersama  Tuhan setiap hari akan menghasilkan perubahan yang baik dalam diri kita masing-masing

Mungkin hari ini kita merasa Firman yang kita dengar, kita baca belum menghasilkan apa-apa.Tetapi Tuhan berkata: tidak pernah sia-sia.

Yesaya 55 : 11  meneguhkan kita bahwa setiap Firman yang Tuhan ucapkan atau taburkan pasti bekerja dan menghasilkan sesuatu, walaupun prosesnya tidak langsung terlihat.

Firman Tuhan itu seperti  benih, benih membutuhkan waktu untuk bertumbuh.

Seprti seorang petani menaburkan benih di ladangnya. Setelah itu ia pulang.

Hari pertama — tidak ada apa-apa.

Minggu pertama — tanah tetap terlihat sama.

Bulan pertama — masih belum terlihat jelas hasilnya.

Tetapi di bawah tanah, sesuatu sedang terjadi.

Benih itu pecah.

Akar mulai tumbuh.

Proses yang tidak terlihat sedang berlangsung.

Demikian juga dengan Firman Tuhan. Saat kita membaca Firman dan belum melihat perubahan, tetap percaya,Tuhan sedang bekerja.

Tetap setia berjalan bersama dengan Tuhan Yesus setiap hari, membaca dan merenungkan FirmanNya, Dia akan bekerja dan suatu saat ade-ade akan menyadari dan berkata “Tuhan aku berubah”.Amin

 

Tuhan Yesus Memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Rabu 25 Februari 2026

Mendengar Suara Tuhan lewat Alkitab (Ibrani 4:12) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Ibrani 4:12

"Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."

Banyak orang bertanya, “Bagaimana saya bisa mendengar suara Tuhan?” Sebagian mengharapkan pengalaman luar biasa, tanda-tanda ajaib, atau suara yang terdengar secara langsung. Namun Alkitab mengajarkan bahwa salah satu cara utama Tuhan berbicara kepada umat-Nya adalah melalui firman-Nya sendiri. Firman Tuhan bukan sekadar tulisan kuno atau kumpulan sejarah rohani. Ibrani 4:12 menegaskan bahwa firman Allah itu hidup dan kuat. Artinya, ketika kita membaca Alkitab, kita sedang berhadapan dengan Allah yang hidup dan sedang berbicara.

1. Firman Tuhan Adalah Suara Allah yang Hidup
Alkitab bukan hanya catatan tentang Tuhan, tetapi sarana Tuhan menyatakan kehendak-Nya. Setiap bagian firman-Nya adalah kebenaran yang relevan untuk kehidupan kita saat ini. Karena firman itu hidup, maka ia bekerja dalam hati pembacanya. Ia menegur ketika kita menyimpang, menguatkan saat kita lemah, dan memberi arah ketika kita bingung. Tuhan memakai firman-Nya untuk menjangkau hati kita secara pribadi.

2. Mendengar Membutuhkan Kepekaan dan Ketaatan
Yakobus 1:22 (TB)
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."

Mendengar suara Tuhan lewat Alkitab bukan hanya soal membaca, tetapi juga merespons. Mendengar yang sejati melibatkan hati yang terbuka dan kemauan untuk taat.
Sering kali Tuhan sudah berbicara melalui firman-Nya, tetapi kita sulit merasakannya karena hati kita tidak sungguh-sungguh siap untuk melakukan apa yang Ia kehendaki. Ketaatan membuka telinga rohani kita semakin peka terhadap suara-Nya.

3. Roh Kudus Menolong Kita Memahami Firman
Yohanes 16:13 (TB)
"Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran."
Mendengar suara Tuhan bukan sekadar proses intelektual. Roh Kudus berperan menolong kita memahami, mengerti, dan menerapkan firman dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika kita membaca Alkitab dengan doa dan kerendahan hati, Roh Kudus akan menerangi bagian-bagian tertentu yang relevan dengan pergumulan kita. Firman yang sama bisa berbicara berbeda sesuai kebutuhan rohani masing-masing, karena Roh Kudus bekerja secara pribadi.

4. Suara Tuhan Memberi Arah dan Damai Sejahtera
Mazmur 119:105 (TB)
"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
Suara Tuhan melalui Alkitab memberi arah dalam setiap langkah kehidupan. Ia tidak selalu menjawab semua pertanyaan secara instan, tetapi Ia memberi prinsip dan hikmat yang menuntun keputusan kita.
Ketika kita mendengar dan mengikuti firman-Nya, ada damai sejahtera yang menyertai, karena kita berjalan sesuai kehendak Allah.

 
Mendengar suara Tuhan tidak selalu berarti mengalami hal-hal yang spektakuler. Sering kali, suara itu hadir melalui halaman-halaman Alkitab yang kita baca setiap hari.
Pertanyaannya adalah:
Apakah kita menyediakan waktu untuk membuka firman-Nya?
Apakah kita membaca dengan hati yang siap mendengar?
Dan apakah kita bersedia taat ketika Tuhan berbicara?
Kiranya kita semakin setia membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan, sehingga setiap hari kita semakin peka mendengar suara-Nya melalui Alkitab.

Kamu bisa menyaksikan renungan disini

Renungan Teruna, Selasa 24 Februari 2026

"Lapar" akan Firman Tuhan (Matius 4:4) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Matius 4:4

Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." 

Apa sih lapar akan firman Tuhan itu? Jadi kalau kita merasa lapar adik-adik pasti pernah merasa lapar ya. Nah kalau kita merasa lapar pasti tubuh kita langsung kasih sinyal biasanya lewat perut itu bunyi kalau enggak kita lemas atau juga susah fokus. Tapi pernah enggak sih kita sadar rohani kita juga bisa lapar? Masalahnya sering kali kita enggak merasa lapar rohani karena kita sudah kenyang oleh hal yang lain.

            Kemarin di hari minggu pak pendeta menyampaikan kita mungkin punya waktu yang lebih ketika nonton drakor atau dracin. Satu episode drakor itu biasanya satu jam dua jam kita mungkin betah untuk menikmati menonton drakor dracin selama berepisode-episode. Lalu scroll tiktok instagram itu yang kita bilang cuma lima menit ternyata bisa berjam-jam. Sekarang bandingin kalau kita baca Alkitab lima menit aja wah udah ngantuk mungkin ya. Saat teduh ngantuk renungan ditunda-tunda nanti ajalah renungan bisa ngerjain yang lain dulu.

Satu-satunya yang bisa memuaskan lapar rohani kita adalah firman Tuhan. Matius 4:4 mengatakan setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Hari ini dan di jaman sekarang ini Alkitab itu mudah untuk diakses. Sekarang sudah ada Alkitab elektronik lewat hp dan tidak hanya kita bisa baca tapi bisa kita dengar saja. Ada Alkitab versi audio sudah cukup canggih sudah tidak ada alasan lagi untuk kita menunda untuk membaca Alkitab. Karena akses yang kita punya untuk membaca renungan itu sudah ada sudah dipermudah. Kita juga bisa membaca mendengarkan renungan lewat youtube. Karena sekarang juga youtube tiktok itu sudah banyak kotbah-kotbah yang beredar namun kita juga harus menelitinya. Jadi jangan sampai kita menerima kotbah-kotbah yang hanya berisikan motivasi-motivasi. Kita harus sesuai dengan standar firman Tuhan.

Jadi kita tidak akan kekurangan akses untuk mendengarkan firman Tuhan. Nah sekarang masalahnya adalah apakah kita mau berinisiatif untuk membaca Alkitab dan merenungkan firman Tuhan dengan segala kemudahan yang sudah berkembang sekarang ini.  Sebagaimana tubuh membutuhkan makan setiap hari. Pastikan adik-adik ingin mempunyai nutrisi, energi yang cukup dengan cara makan. Jadi tiap hari itu pasti ingin makan. Nah demikian juga jiwa kita membutuhkan firman Tuhan setiap hari. Jadi kita tidak bisa mengandalkan makan rohani setiap seminggu sekali saja. Jadi marilah kita mulai membaca merenungkan firman Tuhan setiap hari. Sehingga ketika kita lapar akan firman Tuhan, akan kebenaran firman Tuhan, kita akan dikenyangkan, kita akan dipuaskan.

Kamu bisa menyaksikan renungan disini 

 

Renungan Teruna, Senin 23 Februari 2026

BELAJAR DARI IMAM EZRA (Ezra 7:10) 

by Kak Rahayu Widya

Ezra 7:10

Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.

Ezra adalah teladan orang yang mencintai Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Hidupnya menunjukkan alur rohani yang jelas: bertekad, meneliti, melakukan, mengajar, dan akhirnya memiliki hati yang lapar akan Firman Tuhan.

1. Bertekad

Ezra meneguhkan hatinya untuk mencari Tuhan. Ia tidak menunggu situasi ideal, tetapi memilih Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidupnya.

2. Meneliti Firman

Ia mempelajari Firman Tuhan dengan serius, bukan sekadar membaca, tetapi merenungkan dan memahami kehendak Tuhan.

3. Melakukan Firman

Ezra hidup sesuai dengan apa yang ia pelajari. Firman bukan hanya pengetahuan, tetapi gaya hidup yang nyata dalam keseharian.

4. Mengajar Firman

Karena hidupnya sudah lebih dulu diubahkan, Ezra mampu mengajar bangsa Israel dengan otoritas rohani yang lahir dari ketaatan.

5. Lapar akan Firman Tuhan

Semua ini lahir dari hati yang haus akan Tuhan. Ezra tidak puas hanya tahu, tetapi terus rindu makin dekat dan mengenal Tuhan lebih dalam.


Ezra menunjukkan bahwa pertumbuhan rohani tidak instan, tetapi dimulai dari tekad hati. Tanpa tekad, kita mudah lalai saat sibuk atau lelah. Pertanyaannya: apakah Firman Tuhan masih jadi prioritas utama ?Meneliti Firman berarti memberi waktu sungguh-sungguh, bukan sekadar membaca. Lalu, bagian tersulit adalah melakukan Firman. Banyak yang kita tahu, tetapi belum kita hidupi. Apakah ada kebenaran yang sudah kita terima namun belum dijalani?

Kaka percaya jika adik2 melakukan dengan sungguh- sungguh 2 hal ini

Tidak mustahil kita akan mudah untuk lanjut step selanjutnya yaitu mengajar kebenaran Firman Tuhan dan akan terus haus dan lapar akan Firmannya

Mari ade2 kita instal ‘OS’ kita dengan aplikasi - aplikasi yg membangun 5 point tadi

Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk mimiliki tekad, meneliti, melakukan mengajar dan lapar akan Firman Tuhan 

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Jumat 20 Februari 2026

Tuhan Selalu Menunggu Kita (Wahyu 3:20) 

by Kak Rahayu Widya

Wahyu 3:20

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya…”

Firman Tuhan ini menggambarkan hati Tuhan yang begitu penuh kasih dan kesabaran. Tuhan diibaratkan berdiri di depan pintu dan mengetok. Dia tidak memaksa, tidak marah, dan tidak pergi meninggalkan kita. Dia hanya menunggu dengan sabar sampai kita mau membuka hati dan kembali datang kepada-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di masa liburan seperti sekarang, jadwal kita jadi berubah. Waktu bermain lebih banyak, bangun lebih siang, dan kadang doa atau saat teduh jadi terlewat. Tanpa sadar, hati kita mulai merasa jauh. Lalu muncul pikiran, “Aku sudah lama tidak dekat dengan Tuhan… apa Tuhan masih mau terima aku?”

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa jawabannya: ya, Tuhan tetap menunggu. Dia tidak menghitung seberapa sering kita lalai, tetapi melihat kerinduan hati kita untuk kembali. Setiap kali kita mau berdoa lagi, membaca firman lagi, atau sekadar berkata, “Tuhan, aku rindu Engkau,” saat itu juga pintu hati kita terbuka dan Tuhan dengan sukacita masuk menjumpai kita.

Datang kembali kepada Tuhan tidak harus dengan hal yang besar atau panjang. Kadang cukup dengan doa sederhana sebelum tidur, ucapan syukur di pagi hari, atau membaca satu ayat firman. Hal-hal kecil itu menunjukkan bahwa kita masih mau membuka pintu hati bagi Tuhan, dan itu sangat berharga di mata-Nya.

Kiranya melalui renungan ini, ade-ade belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Tuhan. Seberapa pun kita merasa jauh, Tuhan selalu menunggu dengan sabar dan penuh kasih. Mari terus datang kepada-Nya setiap hari, bahkan di tengah masa liburan, karena di dalam Dia kita menemukan damai dan sukacita yang sejati.

Tuhan Yesus menolong ade-ade semua untuk memiliki hati yang selalu rindu datang kembali kepada-Nya.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini
 

Renungan Teruna, Kamis 19 Februari 2026

He never gives up (2 Timotius 2:13) 

by Kak Dina Mabikafola 

2 Timotius 2:13

jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

Pernah ga kamu punya  temen kerkom yang kerjanya kalau dateng telat, terus males-malesan, selama kerkom hanya main game atau main-main ga serius, kita ngerasa kaya cape sendiri, cape mikir, cape tenaga. Waktu kita tegur dia janji untuk berubah tapi kenyataannya kerkom selanjutnta dia tidak berubah, tetep sama, tetep telat, tetep main hp, tetep males dan ga serius. Gimana rasanya klo punya temen kaya gitu? Kesel, ingin marah dan ingin nyerah kan? Kita pasti akan berkata cukup sekali, ga mau lagi satu kelompok sama dia.

Pernah ga kita berpikir bagaimana kalau Tuhan ada di posisi kita? Dan temen kita itu adalah diri kita sendiri? Kita yang sering komitmen sama Tuhan: Tuhan tahun ini aku janji rajin datang ibadah teruna, tidak datang terlambat, Tuhan aku janji lebih rajin doa dan saat teduh, Tuhan aku janji lebih hormat dan sayang orangtua dan saudara, Tuhan aku  janji mau berubah

Setelah beberapa minggu bahkan mungkin beberapa hari kemudian kembali kita gagal lagi. Kembali senang dengan dunia kita, lupa sama komitmen yang sudah dibuat. Pernah ga berpikir bagaimana klo Tuhan menyerah pada kita, Tuhan ga percaya sama janji kita, Tuhan bilang terserah kamu mau apa saja  Aku sudah tidak peduli. Kebayang kan gimana hidup kita? Apakah kita mampu hidup tanpa kehadiran Tuhan? tanpa kasih dan peryertaanNya yang sempurna? Tetapi Tuhan bukan kita, Tuhan kita itu adalah Tuhan yang setia yang tidak pernah menyerah atas hidup kita. Sekalipun kita gagal, Tuhan tidak pernah gagal dalam kesetiaan-Nya.

2 Timotius 2:13 "Jika kita tidak setia, Dia tetap setia."

Kalau kita pernah berpikir Tuhan menyerah atas kita karena kita yang selalu gagal? Itu karena kita sering mengukur kasih Tuhan dengan standar manusia.

Kalau sahabat berkhianat →  marah.

Kalau orang tua dikecewakan  → kecewa.

Kalau janji dilanggar → hubungan pasti rusak.

Kita pikir Tuhan juga seperti itu.

Komitmen kita mungkin bisa gagal, perasaan kita bisa berubah tapi kesetiaan Tuhan tidak pernah berubah, kasih Tuhan tidak pernah habis bagi kita

Mengapa Tuhan Tidak Menyerah?

1.Karena Kasih-Nya

Karena kasih-Nya bukan kasih yang mudah berubah

Kasih manusia sering bersyarat: kalau kamu berubah, aku tetap tinggal.

Tetapi dalam Alkitab, kasih Tuhan digambarkan setia dan tidak berubah. Ia mengasihi bukan karena kita layak, tapi karena itu sifat-Nya.

2. Karena rencanaNya tetap

Banyak tokoh dalam Alkitab yang gagal, ada yang menyangkal, ada yang jatuh dalam dosa, ada yang lari dari panggilan. Namun Tuhan tetap memulihkan dan memakai mereka.

kegagalan adalah proses pembentukan, bukan tanda bahwa kita ditolak.

3. Karena manusia diciptakan berharga

Dalam kisah penciptaan di Kitab Kejadian, manusia digambarkan diciptakan menurut gambar Allah.

4.Karena Anugerah-Nya selalu cukup

2 Korintus 12:9 berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”

Tuhan tidak menunggu kita sempurna; Dia bekerja di tengah kelemahan kita.

 

Ade-ade jangan berhenti membuat komitmen hanya karena pernah gagal, jangan menjauh dari Tuhan hanya karena merasa malu.

Buktikan rasa cinta kita kepada Tuhan melalui tindakan nyata dan bukan hanya perkataan saja, jangan pernah menyerah, karena Tuhan tidak pernah menyerah atas hidupmu..Amin

Kamu bisa menyaksikan renungan disini 

Kamu bisa mendengarkan renungan disini 


 

Renungan Teruna, Rabu 18 Februari 2026

Bukan Sisa Waktu (Pengkhotbah 12:1) 

by Kak Dina Mabikafola 

Pengkhotbah 12:1

Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: "Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!"

Waktu kaka remaja, saat Perayaan Paskah di Gereja Kaka dan Papa Kaka ditunjuk mewakili  wilayah  untuk mengikuti  lomba game antar keluarga,  Papa Kaka dan Kaka ditanya beberapa pertanyaan, jawaban ditulis pada kertas, setelah beberapa saat ada tanda/ bel yang dibunyikan dan jawaban yang sudah ditulis diangkat bersamaan.

Game ini untuk mengetahui seberapa dekat hubungan dan seberapa dalam Kaka mengenal Papa kaka dan sebalikanya.

Pertanyaan yang diberikan seputar kebiasaan di rumah, aktivitas rutin di luar rumah, dan hal-hal favorit kita masing-masing. Pertanyaan demi pertanyaan diberikan, ternyata didapati bahwa walau tinggal satu rumah tetapi tidak sedekat yang dibayangkan. Faktanya, karena kaka saat itu remaja, banyak ikut  kegiatan di luar rumah,  paskibra, teater, osis kaka jarang sekali berkomunikasi dan berbicara dari hati ke hati dengan Papa Kaka.

Saat itu kaka sadar bahwa kaka harus banyak meluangkan waktu, berkomunikasi secaara intens sehingga kaka mengenal lebih dalam tentang orangtua kaka sebagai bukti kasih kaka kepada mereka.

Berbeda dengan cerita kaka diatas, Alkitab menjelaskan bahwa Yesus Kristus begitu mengasihi kita, Dia mengenal  kita pribadi lepas pribadi, Mazmur 139 : 1-4 Firman Tuhan berbunyi demikian :

Untuk pemimpin biduan.

Mazmur Daud.

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

Bagaimana dengan kita?

Dalam ibadah tanggal 15 Februari kemarin, dalam Firman Tuhan yang dibawakan oleh Ka Daniel, ada pesan yang disampaikan oleh Ka Daniel, “ Jangan sampai kita merasa mengasihi Yesus hanya karena kita tahu banyak tentang Dia, padahal kita jarang meluangkan waktu untuk bersama Dia.

Kita tahu cerita Natal dan Paskah, Kita tahu lagu-lagu rohani, Kita tahu ayat-ayat Alkitab. Tapi pertanyaannya bukan seberapa banyak kita tahu tentang Yesus. Pertanyaannya adalah Sejauh apa kamu mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Apakah kita benar-benar mengasihi Yesus? atau kita hanya mengenal Yesus?

Jujur saja…

Berapa lama kita bisa pegang HP tanpa bosan? Berapa lama kita bisa nonton atau scroll social media tanpa lelah? Tapi kenapa 10 menit doa terasa lama? Kenapa saat teduh setiap hari terasa berat? Kita bilang kita mengasihi Tuhan. Tapi sering kali Tuhan hanya dapat sisa waktu kita. Kita bisa aktif dalam ibadah teruna, aktif pelayanan. Tapi jarang duduk diam di hadapan Tuhan.

Kita tidak bisa bilang kepada seseorang “Aku sayang kamu.” Tapi kita tidak pernah punya waktu untuk dia. Apa itu kasih? Kasih tanpa waktu adalah kata-kata kosong.

Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib. Dia disalibkan. Dia menderita. Dia bangkit. Bukan supaya kita cuma tahu nama-Nya. Tapi supaya kita punya hubungan dengan-Nya.

Kita mengganggap bahwa dengan pergi ke gereja setiap hari Minggu sudah cukup sebagai suatu kewajiban. Padahal yang Tuhan Yesus mau ialah kita mengenal suara-Nya,  ada relasi yang dibangun melalui komunikasi dan perjumpaan dengan Dia secara pribadi, menyediakan waktu untuk baca Alkitab secara disiplin, membangun gaya hidup berdoa sebagai bentuk komunikasi untuk mengerti kehendak Nya.

Ade-ade teruslah membangun relasi dengan Tuhan Yesus  mengasihiNya bukan  dari sisa waktu tetapi waktu yang terbaik, sampai pengenalanmu akan Dia lebih dalam dari semua orang yang kamu kenal

Tuhan Yesus memberkati

Kamu bisa menyaksikan renungan disini 

Kamu bisa mendengarkan renungan disini 


 

Renungan Teruna, Selasa 17 Februari 2026

Mengenal Yesus lewat Firman-Nya (Kolose 3:16a) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Kolose 3:16a

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu…

Orang Percaya pasti ingin memiliki iman yang kuat, karakter yang dewasa, dan hidup yang mencerminkan Kristus. Tapi pertumbuhan rohani gak terjadi secara otomatis adik-adik. Pertumbuhan selalu membutuhkan asupan yang benar. Dan bagi orang percaya, asupan itu adalah firman Tuhan.

Firman Tuhan adalah cara Tuhan membentuk cara berpikir kita. Dunia akan terus menawarkan standar yang berbeda tentang sukses, cinta, kebahagiaan, dan nilai diri. Jika kita jarang membaca Alkitab, maka pikiran kita akan lebih mudah dibentuk oleh dunia daripada oleh Tuhan.

Mengenal Yesus gak cukup hanya lewat khotbah seminggu sekali yang kita dengar saat ibadah aja. Kita perlu berjumpa dengan-Nya secara pribadi melalui firman. Kalau kita jarang membaca firman, iman kita akan mudah goyah. Saat masalah datang, kita bingung. Saat godaan muncul, kita lemah. Saat tekanan pergaulan meningkat, kita mudah kompromi. Mengapa? Karena kita tidak memiliki dasar yang kuat.

Mengasihi Yesus berarti memberi waktu untuk mengenal-Nya. Waktu itu mungkin sederhana, misal beberapa menit sebelum sekolah, satu pasal sebelum tidur, atau merenungkan satu ayat sepanjang hari. Yang terpenting bukan lamanya, tetapi konsistensinya. Kasih yang sejati selalu menyediakan waktu. Jika kita berkata mengasihi Yesus, tetapi tidak pernah mau mendengar firman-Nya, maka kasih itu akan sulit bertumbuh. Sebaliknya, ketika kita setia membaca dan merenungkan firman, hati kita akan semakin peka terhadap suara Tuhan.

Firman Tuhan bukan beban tambahan di tengah kesibukan. Justru firman adalah kekuatan yang menolong kita menjalani kesibukan itu dengan hikmat dan ketenangan.

Semoga kita sebagai anak-anak Tuhan tidak hanya aktif dalam banyak hal, tetapi juga bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus—karena semakin kita mengenal Dia melalui firman-Nya, semakin kita mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh. 

 Kamu bisa mendengarkan renungan disini