Renungan Teruna, Jumat 01 Mei 2026

BRAIN ROT (Amsal 4:23) 

by Kak Rahayu Widya

Amsal 4:23

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan

Selama seminggu ini, ade - ade mungkin terasa hidup begitu padat.

Sekolah, tugas, beragam kegiatan, ujian hingga pertandingan semuanya bergulir tanpa henti.

Logikanya, waktu pulang adalah waktu untuk beristirahat.

Namun kenyataannya, kita justru lanjut scrolling.

Video demi video melintas, tanpa sadar waktu terkuras habis.

Kelihatannya kita sedang bersantai.

Padahal, pikiran kita tetap dipaksa bekerja keras menyerap informasi.

Inilah yang sering disebut sebagai brain rot kondisi di mana terlalu banyak hal masuk ke pikiran, namun tidak ada yang benar-benar membangun. Begitu banyak yang dilihat, tapi tak satu pun yang menguatkan hati.

Akhirnya, meski jadwal penuh dan waktu terisi, kita tetap merasa kosong dan lelah secara batin.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Ini adalah sebuah pengingat bahwa tidak semua yang kita lihat dan dengar layak untuk disimpan. Kita punya kendali untuk menyaring apa yang boleh menetap di dalam pikiran.

Kadang, kita butuh berhenti.

Bukan hanya berhenti dari aktivitas fisik, tapi juga berhenti dari "kebisingan" digital yang terus membombardir pikiran kita.

Sebab, kualitas hidup bukan ditentukan oleh seberapa penuh hari-hari kita, melainkan oleh apa yang memenuhi hati kita.


Refleksi:

Apa yang paling banyak mengisi pikiran ade - ade minggu ini dan apakah hal itu membangun hidup kita?


"Mari ambil jeda sejenak. Pilih apa yang membangun jiwa, dan jangan biarkan konten sia-sia memenuhi ruang yang seharusnya milik Sang Pencipta."

Amin

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Kamis 30 April 2026

Asal Komentar (Yakobus 1:19) 

by Kak Rahayu Widya

Yakobus 1:19

Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah

Belakangan ini, kita bisa melihat bagaimana sebuah pernyataan dari seorang menteri bisa dengan cepat menjadi viral dan menuai banyak komentar dari berbagai pihak.

Bukan hanya membahas inti persoalan, tetapi juga berkembang menjadi perdebatan, kritik, bahkan serangan opini.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: orang sering lebih cepat berkomentar daripada memahami.

Di era media sosial, semua orang punya ruang untuk bersuara.

Namun sayangnya, tidak semua suara membawa kebenaran atau membangun.

Banyak yang ikut berkomentar bukan karena benar-benar mengerti, tetapi karena merasa perlu ikut berbicara.

Yang penting merespon, bukan memahami. Yang penting ikut ramai, bukan ikut peduli.

Firman Tuhan dalam Yakobus 1:19 justru mengajarkan kebalikan:

cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.

Artinya, sebagai orang percaya, kita tidak dipanggil untuk menjadi yang paling cepat bersuara,tetapi yang paling bijak dalam merespon.

Sebelum berbicara, kita belajar mendengar.

Sebelum menilai, kita belajar memahami.

Sebelum bereaksi, kita belajar menahan diri.

Karena tidak semua hal perlu dikomentari.

Dan tidak semua yang bisa kita katakan, harus kita katakan.

Dunia mungkin mendorong kita untuk selalu punya opini.

Tetapi firman Tuhan mengajarkan kita untuk punya hikmat.


Refleksi:

* Apakah aku sering ikut berkomentar tanpa benar-benar memahami?

* Apakah aku lebih ingin didengar, daripada belajar mendengar?

* Apakah perkataanku membawa damai atau justru menambah keributan?


Di tengah dunia yang ramai dengan suara, Tuhan tidak mencari siapa yang paling banyak bicara,

tetapi siapa yang paling bijak dalam berkata-kata.

Menjadi dewasa dalam iman bukan terlihat dari seberapa cepat kita merespon,

tetapi dari seberapa dalam kita mampu menahan diri.


Kiranya Roh kudus memberikan hikmatNya bagi kita untuk bisa menahan diri dalam berkomentar sebelum memahami

Amin

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Rabu 29 April 2026

Foto Copi (Roma 12:2) 

by Kak Dina Mabikafola

Roma 12:2 

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." 

Kemarin sore kaka diminta mama kaka untuk fotocopi Liturgi untuk Ibadah komisi Lansia, sambil menunggu kaka mengamati bagaimana mesin fotocopy ini bekerja,  ketika kita memasukkan kertas ke mesin fotokopi, tujuan kita adalah menghasilkan salinan yang sama persis dengan aslinya. Jika kertas aslinya bersih, hasil fotokopinya bersih. Jika kertas aslinya kotor atau bernoda, hasil fotokopinya pun akan kotor.


Mesin fotokopi tidak berargumen. tidak protes, tidak bilang, "Wah, kertas ini tulisannya miring, saya buat lurus saja deh.", wah kertas ini kotor, kayanya ga usah dilanjut nih.

 Mesin itu hanya menyalin apa yang ada.


Sebagai remaja Kristen, hidup kita ini seperti kertas yang sedang difotokopi. Pertanyaannya: siapa atau apa yang sedang kita copy dalam hidup kita?

    "Fotokopi" Dunia? 

    Seringkali, tanpa sadar kita memfotokopi gaya hidup dunia. Kita meniru tren, bahasa, gaya pergaulan, bahkan perilaku toxic hanya supaya diterima oleh teman-teman.

 Kita takut dianggap "kuno" atau "tidak gaul". Akhirnya, hidup kita menjadi salinan dunia yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita perbuat

    Roma 12:2 meminta kita untuk tidak menjadi serupa dengan dunia. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi "fotokopi" Yesus.

        Saat orang melihatmu, mendengar dan melihat tindakanmu apakah mereka melihat Kasih?melihat Kristus di dalammu?

         Jadilah salinan yang berkualitas! menjadi "fotokopi" Yesus tidak mudah. Kita harus sering-sering "mengecek tinta" kita melalui doa dan baca Alkitab.


Hari ini, kita diingatkan untuk terus berusaha untuk jadi fotocopi Kristus, tidak langsung ikut-ikutan tren yang negatif. Saat ada kesempatan untuk  menyontek, berkata kotor dan kasar, atau berlaku tidak sopan (fotocopi dunia), berhentilah, ingatlah bahwa hidupmu harus jadi salinan yang persis dengan karakter Yesus.

Mohon pertolongan Roh Kudus untuk mengubah hati dan pikiran  kita, dan mengajar kita agar hidup kita menjadi fotokopi yang jelas dari kasih dan kebenaran Tuhan Yesus Kristus..Amin


Renungan Teruna, Selasa 28 April 2026

Keranjang Ucapan Syukur (Efesus 5:20) 

by Kak Dina Mabikafola

Efesus 5:20

Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.

Ucapan syukur akan sangat mudah keluar dari mulut kita, ketika Tuhan menurut kita  memberikan berkat yang besar seperti hadiah yang tidak terduga, yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Misalnya, mendapatkan Iphone seri terbaru, dapat hadiah sepatu merk ternama yang kita idam-idamkan dari orangtua kita, bisa ngerjain ujian lancar dan dapat nilai bagus padahal kita ngerasa "B" saja belajarnya, crush kita di sekolah tiba-tiba respon sama kita, pasti mulut kita ga akan berhenti mengucap syukur.

Wajar saja bila kita mengucap syukur. Namun bila ucapan syukur terucap hanya jika ketika mendapat hadiah atau dapat hal yang baik, menyenangkan hati kita, betapa terbatasnya keranjang ucapan syukur kita kepada Tuhan.


Pernahkah kita bersyukur kepada Tuhan, ketika:

 -kita bangun pagi karena Tuhan telah memulihkan kelelahanmu  semalam

 - merasakan dan melihat cahaya matahari terbit di pagi hari dan terbenam di sore hari, bukti penyertaan-Nya untuk kita

-Ketika aktivitas sekolah sangat padat,kurang istirahat, lelah fisik tetapi Tuhan berikan kesehatan, kelancaran serta keberhasilan untuk dapat selesaikan semua dengan baik,itu semua berkat dari Tuhan

-Ketika menyaksikan anggota keluarga kita sakit, mulai sehat  dan Tuhan memulihkan kesehatan mereka, betapa kita bersyukur untuk itu semua.

Dan masih banyak hal lain yang tidak pernah kita pikirkan karena kita merasa itu adalah hal biasa yang kita terima, padahal itu semua kita terima karena kebaikan dan anugerah Tuhan

 

Rasul Paulus dalam Efesus 5 : 20 mengingatkan kita agar “mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita, Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.Ade-ade biarlah kita senantiasa menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Dia, sudah seharusnya kita mengisi penuh keranjang ucapan syukur kita bahkan dengan berlimpah-limpah.

Dengan selalu mengingat bahwa Allah selalu bekerja dengan cara-Nya, terlibat aktif atas hidup kita.

Mari kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan selalu mengucap syukur untuk semua kebaikan-Nya yang diberikan kepada kita. Amin


Tuhan Yesus Memberkati


Renungan Teruna, Senin 27 April 2026

Sukacita yang menular (Roma 12:15) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Roma 12:15

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

Adik-adik, Roma 12:15 ngajarin kita kalau hidup sebagai orang Kristen itu bukan cuma soal diri sendiri, tapi juga peduli sama orang lain. Salah satu bagian penting dari ayat ini adalah ajakan untuk ikut senang saat orang lain senang. Artinya, kita diajak untuk ikut merayakan kebahagiaan orang lain dengan hati yang tulus.

Tapi jujur aja, ini kadang nggak gampang. Waktu lihat teman berhasil, dipuji, atau dapat sesuatu yang kita pengen, kadang muncul rasa iri, minder, atau mulai bandingin diri. Akhirnya, kebahagiaan orang lain malah bikin hati nggak nyaman.

Padahal Tuhan mau kita punya hati yang luas. Tuhan mau kita bisa ikut bersyukur waktu lihat orang lain diberkati. Sukacita yang sejati bukan cuma waktu kita dapat berkat, tapi juga waktu kita bisa senang melihat orang lain bahagia.

Kalau kita belajar ikut bersukacita sama orang lain, hati kita jadi lebih bebas dari iri hati dan persaingan. Kita juga jadi pribadi yang membawa energi positif, bukan suasana negatif. Inget adik-adik, sukacita dari Tuhan nggak akan habis kalau dibagikan. Justru semakin kita ikut senang sama orang lain, hati kita makin penuh damai dan rasa syukur.


Renungan Teruna, Jumat 24 April 2026

Circle Pertemanan (1 Korintus 15:33) 

by Kak Daniel Hutauruk 

1 Korintus 15:33

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Adik-adik, istilah “Circle Pertemanan” tentunya bukan istilah yang asing buat kita, “Circle Pertemanan” dalam kehidupan sehari-hari adalah orang-orang disekitar kita yang ada bersama dengan kita yang akan berjuang bersama untuk mendukung kita. Penting untuk kita memilih “Circle Pertemanan” atau pergaulan yang tepat yang akan sangat berpengaruh bagi kehidupan kita. Ada banyak yang masuk dalam kehidupan kita yang bila kita tidak antisipasi bisa mempengaruhi hidup kita, membawa pengaruh dan dampak yang buruk.

Namun sesungguhnya, kepribadian dan pemikiran kita memang terbentuk dari hal-hal yang kita lihat, kita baca, dengarkan dan dengan siapa kita bergaul.  Saat ini kita dapat dengan mudah mengakses segala informasi dari dunia maya. Namun kita harus pahami bahwa tidak semua hal tersebut berguna membangun kehidupan kita. Ada hal-hal yang perlu kita pilih dan tak perlu digunakan. Mengutip sebuah pepatah bijak yang berkata, “Informasi akan membentuk pola pikir seseorang, pola pikir akan menentukan tindakan, tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan berbuah karakter seseorang”.

Hari ini, mari kita isi pikiran kita dengan informasi dan hal-hal yang membangun.

Prinsip-prinsip firman Tuhan itu bertumbuh dan mendominasi hidup kita. Percayalah, kita akan bertumbuh semakin serupa dan segambar dengan-Nya. Firman Tuhan berfungsi sebagai filter kehidupan rohani kita. Dengan kehidupan rohani yang bersih pasti akan menghasilkan perilaku yang bersih.

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9).

Rasul Paulus pun menyatakan betapa pentingnya firman Tuhan dalam kaitan dengan kelakuan.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Apa saja yang bisa dikerjakan oleh Firman Tuhan sebagai filter kehidupan berkaitan dengan perilaku (pikiran, perkataan dan tindakan)? Firman Tuhan memberikan awasan supaya perilaku kita sesuai kehendakNya. Beberapa diantaranya:

1. Filter untuk menjaga pikiran

Filipi 4:8: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Firman Tuhan dengan jelas mengingatkan kehidupan kita untuk, menjaga pikiran kita. Karena peperangan besar terjadi dalam pikiran kita. Pikiran kita tidak pernah ada di ZONA NETRAL – selalu memilih untuk diisi dengan PIKIRAN yang BENAR atau PIKIRAN DUNIA INI…

2. Filter untuk menjaga perkataan

Amsal 10:19 “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”

Perkataan kita adalah luapan dari hati kita, apapun yang keluar dari mulut kita mencerminkan siapakah diri kita,  Pernah ga kepikiran … kata-kata apa yang sering kita keluaran dari mulut kita (Kalau dunia teknologi, dalam chat/status dll) itu sebenarnya isi hati kita. Kalau perkataan kita penuh dengan hal yang jorok dan tidak benar, maka kemungkinan besar itulah yang ada dalam hati dan pikiran kita.

3. Filter untuk menjaga perbuatan/tindakan

Amsal 4:23 menyatakan “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Apa yang ada dalam hati kita, akan berbuah kepada pebuatan-perbuatan kita. Jadi segala sesuatu yang kita kerjakan lahir dari hati kita dan tentunya hati dan pikiran kita akan menjadi Filter yang sangat penting.

BELAJAR DARI KEHIDUPAN TIMOTIUS

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12)

Timotius adalah anak rohani dari Rasul Paulus yang diutus untuk menggembalakan Jemaat yang ada di Efesus. MeskipunTimotius masih berusia sangat muda, Paulus tidak mau kalau Timotius yang dikasihinya  direndahkan, dipandang remeh oleh Jemaat di Efesus. Paulus menekankan agar Timotius HARUS menjadi TELADAN DALAM KARAKTER supaya tidak ada Jemaat yang ada di Efesus MERENDAHKANNYA karena MUDA.


Renungan Teruna, Kamis 23 April 2026

Titik Lelah (2 Korintus 4:8-9) 

by Kak Rahayu Widya

2 Korintus 4:8-9

“Kami ditindas dari segala pihak, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa…”

Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah berada pada titik kelelahan.

Bukan sekadar lelah secara fisik, tetapi lelah secara batin ketika usaha sudah dilakukan, doa sudah dinaikkan, namun keadaan belum juga berubah.

Pada titik tersebut, sering kali muncul pergumulan dalam hati:

apakah aku masih sanggup melanjutkan?

Inilah yang disebut sebagai kondisi hampir menyerah.

Menariknya, Alkitab tidak menutupi realitas ini. Rasul Paulus dengan jujur menyatakan bahwa ia pernah mengalami tekanan dari berbagai sisi, bahkan sampai pada keadaan “habis akal”. Hal ini menunjukkan bahwa pergumulan, kelelahan, dan kebingungan bukanlah tanda kelemahan iman.

Namun demikian, firman Tuhan tidak berhenti pada kondisi tersebut.

Ada kata penghubung yang penting: “namun.”

* Ditindas, namun tidak terjepit

* Habis akal, namun tidak putus asa

Kata “namun” menunjukkan adanya pengharapan di tengah tekanan.

Artinya, sekalipun keadaan tidak berubah, ada kekuatan yang menopang dari dalam yaitu penyertaan Tuhan.

Sebagai orang percaya, sumber kekuatan kita bukan berasal dari kemampuan diri sendiri, melainkan dari relasi kita dengan Tuhan. Ketika seseorang tetap terhubung dengan Tuhan, ia akan dimampukan untuk bertahan, bahkan di saat ia merasa tidak lagi memiliki kekuatan.

Oleh karena itu, ketika berada di titik hampir menyerah, yang paling penting bukanlah seberapa kuat kita bertahan, melainkan seberapa dekat kita tetap berjalan bersama Tuhan.

Sering kali, manusia ingin segera keluar dari masalah.

Namun Tuhan lebih dahulu ingin membentuk ketekunan, iman, dan kedewasaan melalui proses tersebut.

Refleksi:

Dalam aspek apa saat ini ade-ade merasa hampir menyerah?

Apakah tekanan tersebut justru membuat kita menjauh dari Tuhan, atau mendorong kita untuk semakin bergantung kepada-Nya?


Keadaan mungkin belum berubah.

Jawaban mungkin belum terlihat.


Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Selama kita tetap berpegang pada Tuhan, kita tidak akan jatuh ke dalam keputusasaan.


Karena itu, sekalipun terasa berat, tetaplah bertahan.

Bukan karena kita kuat, tetapi karena Tuhan setia menopang.


Kiranya Roh Kudus memberikan kekuatan bagi kita dalam menghadapi berbagai tantangan hidup

Amin


Renungan Teruna, Rabu 22 April 2026

Siapa Takut? (Yesaya 41:10) 

by Kak Rahayu Widya

Yesaya 41:10

janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Coba jujur…

Siapa di sini yang pernah takut?

Takut gelap?

Takut sendirian?

Takut gagal?

Atau… takut masa depan?


Kadang kita bilang, “aku berani kok.”

Tapi kenyataannya, banyak dari kita tetap jalan sambil gemetar.


Ada satu ilustrasi sederhana:

Seorang anak kecil berjalan di tempat gelap. Dia takut. Tapi begitu dia pegang tangan ayahnya, tempat itu masih gelap… tapi dia tidak panik lagi.


Kenapa?

Bukan karena gelapnya hilang, tapi karena dia tahu siapa yang pegang tangannya.


Begitu juga dengan kita.

Tuhan tidak pernah janji hidup kita akan selalu terang, mudah, atau tanpa masalah.

Tapi Tuhan janji: “Aku menyertai engkau.”


Masalahnya, kita sering fokus ke “gelapnya”:

Sampai lupa… kita tidak jalan sendirian.

Takut itu wajar.

Tapi hidup dalam ketakutan itu pilihan.


Orang yang beriman bukan orang yang tidak pernah takut.

Tapi orang yang tetap melangkah, walaupun takut karena dia percaya Tuhan ada di sampingnya.


Jadi hari ini, pertanyaannya bukan:

“Apakah aku takut?”

Tapi:

“Siapa yang aku percaya saat aku takut?”


Kalau Tuhan yang pegang hidup kita, harusnya kita bisa bilang:

“Takut sih ada… tapi aku tidak sendiri.”


Refleksi:

Coba pikirkan satu hal yang paling membuat ade-ade takut akhir-akhir ini.

Sekarang bayangkan: kalau Tuhan benar-benar menyertai ade-ade dalam hal itu… masihkah ketakutan itu sebesar tadi?


Kiranya Roh Kudus menguatkan kita selalu untuk berpegang pada janji Tuhan yg selalu menyertai

Amin


Renungan Teruna, Selasa 21 April 2026

Ada Ujian (Yakobus 1:3) 

by Kak Dina Mabikafola

Yakobus 1:3

Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan

Slogan “HARAP TENANG, ADA UJIAN!” rasa-rasanya lebih tepat ditujukan kepada orang yang sedang menjalani ujian. Karena, ketenangan itu bersumber dari dalam diri sendiri, dan tidak ditentukan oleh orang lain.
Tapi itulah ujian, ujian terkadang membuat beberapa orang stres, suasana tenang dianggap  bisa mengurangi stres dan tekanan.

Selain stres dan butuh ketenangan banyak orang yang ketika menghadapi ujian dia mengeluh

"Aduh, ujian lagi…ujian lagi…kenapa sekolah harus ada ujian?
 sekolah mana yang tidak ada ujiannya? Setiap sekolah pasti ada ujiannya untuk melihat apakah murid-muridnya bertambah pengetahuannya atau tidak. 
Memang ujian itu tidak menyenangkan karena menuntut kita harus belajar untuk mempersiapkannya, namun ujianlah yang akan menentukan apakah kita bisa masuk ke jenjang selanjutnya atau tidak.
 ujian yang ade-ade hadapi di sekolah, bukanlah untuk menyulitkan atau membuat susah. Sebaliknya, melalui ujian tersebut, dapat mengetahui sejauh mana kemampuan mengikuti pelajaran, mari hadapi ujian demi ujian yang diberikan dengan percaya diri,tidak perlu takut,gelisah,kuatir, Belajar dengan sungguh-sungguh dan berdoa kepada Tuhan, Tuhan pasti akan memampukan kita menghadapi setiap ujian yang diberikan.
Persiapkan dengan baik sehingga hasilnya pun baik. Tuhan pasti memberkati.

 Seperti disekolah, kehidupan kita juga digambarkan akan mengalami ujian, saat menghadapi ujian kehidupan Tuhan mau supaya kita semua menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan dan semuanya teruji ketika kita memutuskan untuk memilih melakukan Firman Tuhan saat menghadapi ujian dalam kehidupan kita atau tidak.

Kita mau mengingat tokoh Alkitab bernama Ayub.
Iman Ayub diuji ketika dia menghadapi banyak tantangan dan mengalami sakit, namun Ayub tetap percaya bahwa Tuhan memiliki rencana dalam kehidupannya
Ayub tetap percaya walaupun belum mengerti, tetap setia walaupun sakit, tetap hormat walaupun kehilangan segalanya
Ini bukan iman biasa, ini iman yang lulus ujian.
Setelah ujian
Tuhan akhirnya memulihkan Ayub
Hidupnya dipulihkan
Diberkati dua kali lipat
Hubungannya dengan Tuhan jadi lebih dalam.

Seperti Ayub biarlah kita tetap setia, beriman penuh kepada Tuhan, memilih menjadi pelaku Firman saat menghadapi ujian kehidupan,percaya bahwa UJIAN akan membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi.Amin

Tuhan Yesus Memberkati


Renungan Teruna, Senin 20 April 2026

Keunikan Ehud (1 Korintus 12:11 & Hakim-Hakim 3:12-31) 

by Kak Dina Mabikafola

1 Korintus 12:11

Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Setelah memberikan upeti, Ehud memakai siasat untuk menemui Eglon. Ehud membawa pedang dan mengikatnya pada pangkal paha kanannya, lalu ia membunuh raja Eglon.
 Eglon seorang yang sangat gemuk. 
Badan Eglon yang gemuk, menyiratkan bahwa ia menggemukkan dirinya dengan menindas orang Israel, Ehud seorang bertangan kidal, maka ia bisa lolos membawa pedang masuk menemui Eglon karena ia mengikatkannya pada pangkal paha kanannya. Tersirat orang-orang Eglon hanya memeriksa paha kiri karena pada masa itu jarang ada orang bertangan kidal. Allah secara khusus memakai Ehud yang kidal untuk membunuh Eglon.

Setelah membunuh Raja Eglon, Ehud melarikan diri, setelah itu Ehud membawa orang Israel berperang melawan Moab, dan menewaskan sepuluh ribu orang Moab. Hari itu Moab ditundukkan oleh Israel.

Secara fisik Ehud memiliki banyak kekurangan. Ia bukan sekedar kidal, tapi tangan kanannya juga cacat sehingga ia harus menggunakan tangan kirinya untuk mengerjakan apa pun. Namun Tuhan memakai hidup Ehud secara luar biasa. Hanya bersenjatakan pedang buatannya sendiri yang ia simpan di dalam pakaiannya, Ehud berani menghadap raja Moab dan merancang pembunuhan dan itu sudah cukup baginya untuk membunuh raja Moab yaitu Eglon.

Menurut ukuran manusia, Ehud bukanlah siapa-siapa, bahkan ia dipandang sebelah mata dan diremehkan orang karena kecacatannya. Tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil! Kelemahan Ehud bisa diubah menjadi kekuatan yang dahsyat! Di tangan Tuhan, seorang yang tidak berarti diubahNya menjadi pahlawan 

Roh Kudus "memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya" (1Kor 12:11)

Bukan seperti kehendak kita, melainkan kehendak-Nya. Jadi, janganlah kita membanding-bandingkan karunia kita dengan orang lain. Allah sudah merancang kita sesuai dengan tujuan-Nya bagi hidup kita masing-masing.

Marilah kita belajar melihat keunikan diri kita, mensyukuri, dan menghargainya. Kita perlu mencari tahu bagaimana Allah mau memakai kita secara unik, dan mempersiapkan diri kita dengan baik untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan. Amin

Tuhan Yesus Memberkati


Renungan Teruna, Jumat 17 April 2026

Arah Mata, Arah Hidup (Matius 6:22) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Matius 6:22

"Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu."

Di zaman sekarang, mata kita dipenuhi begitu banyak hal: konten media sosial, tren, gaya hidup, dan berbagai hal yang terus menarik perhatian. Tanpa sadar, apa yang kita lihat setiap hari membentuk cara kita berpikir, merasa, dan akhirnya bertindak. Yesus mengingatkan bahwa mata bukan sekadar alat melihat, tetapi “pelita tubuh”, artinya mata adalah penentu apakah hidup kita dipenuhi terang atau justru gelap.

“Mata yang baik” berbicara tentang fokus yang benar, apa yang kita izinkan masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Jika kita terus melihat hal-hal yang negatif, seperti iri hati, kebencian, atau dosa, maka itu akan memengaruhi seluruh hidup kita. Sebaliknya, jika kita mengarahkan pandangan kita kepada hal-hal yang benar, murni, dan berkenan kepada Tuhan, hidup kita akan dipenuhi terang.

 Di zaman sekarang, ini menjadi tantangan nyata. Apa yang kita tonton, siapa yang kita ikuti, dan apa yang kita kagumi sangat memengaruhi identitas kita. Tanpa disadari, kita bisa mulai membandingkan diri, merasa kurang, atau bahkan menjauh dari nilai-nilai Tuhan. Karena itu, penting untuk menjaga “mata rohani” kita tetap sehat.

 Mengikuti Kristus berarti belajar mengarahkan pandangan kita kepada-Nya setiap hari. Saat kita fokus kepada Tuhan melalui firman, doa, dan hidup yang benar, maka terang-Nya akan memenuhi hidup kita dan memampukan kita berjalan di jalan yang benar.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini



Renungan Teruna, Kamis 16 April 2026

Hati yang Kudus di dunia yang rusak (1 Tesalonika 4:3) 

by Kak Daniel Hutauruk 

1 Tesalonika 4:3

Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,

Kasus viral yang terjadi di lingkungan kampus ternama akhir-akhir ini, di mana sejumlah mahasiswa diduga melakukan pelecehan terhadap sesama menjadi pengingat keras bahwa masalah moral tidak mengenal tempat. Bahkan di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai moral, penyimpangan bisa terjadi ketika hati manusia tidak dijaga dengan benar.

Adik-adik, kita hidup di tengah dunia yang sering mengaburkan batas antara yang benar dan salah. Media sosial, pergaulan, dan budaya populer kadang membuat hal yang tidak pantas dianggap biasa. Kasus ini bukan hanya tentang kesalahan individu, tetapi juga tentang bagaimana hati yang tidak dikendalikan bisa membawa seseorang jatuh semakin jauh.

Firman Tuhan dengan jelas mengingatkan bahwa kehendak Allah adalah hidup dalam pengudusan, yaitu menjaga diri, pikiran, dan sikap terhadap orang lain dengan hormat.

 Pelecehan dalam bentuk apa pun menunjukkan hilangnya rasa hormat dan kasih terhadap sesama. Itu bertentangan langsung dengan ajaran Kristus yang memanggil kita untuk mengasihi dan menghargai orang lain sebagai sesama manusia yang bermartabat.

Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan di depan orang, tetapi juga apa yang kita pikirkan dan niatkan dalam hati. Karena itu, hidup kudus bukan pilihan tambahan, tetapi panggilan setiap orang percaya.


Renungan Teruna, Rabu 15 April 2026

Hiperbola (Amsal 18:21) 

by Kak Rahayu Widya

Amsal 18:21

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali tanpa disadari kita menggunakan ungkapan yang berlebihan atau hiperbola, terutama saat sedang berada dalam tekanan emosi. Kalimat seperti, “tidak ada satu pun yang peduli,” atau “semuanya selalu gagal,” kerap muncul sebagai bentuk luapan perasaan. Padahal, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.


Penggunaan hiperbola dalam kondisi emosional dapat memengaruhi cara seseorang memandang hidup. Apa yang awalnya hanya ungkapan sesaat, perlahan dapat membentuk pola pikir yang keliru. Seseorang bisa mulai meyakini bahwa situasinya benar-benar seburuk yang diucapkan, sehingga semakin sulit melihat sisi positif atau pengharapan yang Tuhan sediakan.


Firman Tuhan dalam Amsal 18:21 menegaskan bahwa hidup dan mati dikuasai oleh lidah. Hal ini menunjukkan bahwa perkataan memiliki kuasa yang besar bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Kata-kata yang diucapkan secara terus-menerus dapat membangun atau justru meruntuhkan.


Tuhan tidak melarang umat-Nya untuk menyatakan perasaan dengan jujur. Namun, kejujuran berbeda dengan melebih-lebihkan keadaan. Kejujuran mengakui realitas dengan benar, sedangkan hiperbola cenderung memperbesar masalah hingga melampaui kebenaran.


Oleh karena itu, penting bagi setiap orang percaya, termasuk ade - ade teruna, untuk belajar mengendalikan perkataan. Saat menghadapi kesulitan, kita diajak untuk tetap jujur, tetapi juga bijaksana dalam menyampaikan apa yang dirasakan. Mengakui bahwa keadaan sedang tidak mudah adalah benar, tetapi menyimpulkan bahwa semuanya buruk atau tidak ada harapan adalah bentuk distorsi yang perlu dihindari.


Ketika kita mulai membiasakan diri untuk berkata sesuai kebenaran, maka cara pandang kita pun akan diperbarui. Kita tidak lagi terjebak dalam emosi yang diperbesar, melainkan belajar melihat hidup dengan lebih jernih dan penuh pengharapan di dalam Tuhan.


Refleksi:

Luangkan waktu sejenak untuk merenungkan:

Apakah selama ini saya sering menggunakan kata-kata yang berlebihan saat menghadapi masalah?

Apakah perkataan saya membantu saya melihat kebenaran, atau justru memperbesar beban yang ada?

Bagaimana saya dapat mulai melatih diri untuk berbicara dengan lebih jujur dan bijaksana?


Kiranya Roh Kudus memampukan setiap kita untuk belajar menggunakan perkataan dengan tepat, sehingga apa yang kita ucapkan menjadi sarana yang membangun, bukan melemahkan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Selasa 14 April 2026

Paradox (Efesus 4:31-32) 

by Kak Rahayu Widya

Efesus 4:31-32

(31) Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. (32)Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Pernah nggak sih kita sadar, justru orang yang paling dekat dengan kita keluarga, sahabat, atau orang yang kita sayang malah jadi “sasaran” emosi kita? Hal kecil bisa jadi besar, nada bicara jadi lebih tinggi, bahkan kata-kata yang keluar lebih tajam dibanding saat kita berbicara dengan orang lain.


Fenomena ini sering disebut safety paradox. Kita merasa aman dengan orang-orang terdekat, jadi kita menurunkan “filter” kita. Kita tahu mereka menerima kita apa adanya, tidak mudah meninggalkan kita, sehingga tanpa sadar kita jadi lebih bebas mengekspresikan emosi termasuk amarah, kecewa, dan luka yang belum selesai.

Masalahnya, rasa aman itu sering kita salah gunakan. Bukannya menjadikan hubungan semakin hangat, justru jadi tempat pelampiasan emosi yang tidak sehat. Kita lupa bahwa orang terdekat juga punya hati yang bisa terluka.

Firman Tuhan dalam Efesus 4:31-32 dengan jelas berkata: buanglah segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Ini bukan pilihan, tapi perintah. Dan menariknya, ayat ini tidak memberi pengecualian tidak ada bagian yang bilang “kecuali kalau itu ke orang terdekat.”

Sebaliknya, kita diminta untuk ramah, penuh kasih, dan saling mengampuni. Artinya, standar kasih Tuhan justru harus paling nyata dalam hubungan yang paling dekat dengan kita. Bukan hanya baik di luar, tapi juga lembut di rumah. Bukan hanya sabar dengan orang lain, tapi juga penuh kasih kepada mereka yang setiap hari bersama kita.

Mengasihi orang terdekat memang tidak selalu mudah. Karena kita melihat kekurangan mereka lebih jelas, dan mereka juga melihat sisi terburuk kita. Tapi justru di situlah Tuhan sedang membentuk karakter kita belajar mengendalikan emosi, belajar berkata dengan kasih, dan belajar mengampuni seperti Tuhan sudah lebih dulu mengampuni kita.

Refleksi:

Coba renungkan hari ini:

Apakah aku merasa “terlalu aman” sehingga membiarkan emosiku melukai orang terdekat?

Apakah kata-kataku lebih keras kepada mereka dibanding kepada orang lain?

Apa langkah nyata yang bisa aku ambil hari ini untuk memperbaiki sikapku mungkin dengan meminta maaf, atau mulai belajar menahan respon?


Kedekatan seharusnya menjadi tempat yang paling aman untuk bertumbuh dalam kasih, bukan tempat paling mudah untuk saling melukai. Tuhan rindu kita bukan hanya terlihat baik di luar, tapi benar-benar memiliki hati yang lembut terutama kepada mereka yang paling dekat dengan kita.


Kiranya Roh Kudus menolong kita supaya kita dapat memancarkan kasih dimulai dari orang - orang terdekat

Amin

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Senin 13 April 2026

Marah (Yakobus 1:19) 

by Kak Dina Mabikafola 

Yakobus 1:19

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah

Ade-ade kemarin ada berita yang viral yang terjadi di Jembatan Citarum.

Menurut informasi ada mayat seorang pria yang hanyut, pria ini terpeleset jatuh saat berusaha mengambil pisau yang akan dia gunakan untuk mencelakai temannya yang dia anggap mempunyai hubungan yang dekat dengan istrinya.

Sang istri berusaha menjelaskan dan mencegahnya tetapi pria ini sudah dikuasai amarah di perjalanan pisaunya jatuh dibawah jembatan citarum, saat dia berusaha untuk mengambilnya pria itu terpeleset sehingga jatuh, hanyut dan tenggelam.


Pria ini harus kehilangan nyawanya hanya karena emosi yang tidak terkendali.

Mungkin sebenarnya dia punya kemampuan untuk mengambil pisau itu tapi amarah sudah menguasainya sehingga dia jadi tidak berhati-hati.


Ade-ade

Siapa di sini yang pernah terbawa emosi dan menjadi marah minggu ini?


Marah adalah bagian dari emosi dan semua orang punya rasa marah,tapi pertanyaannya, siapa yang pegang kendali kita atau rasa marah kita?


Sekarang kita bayangkan kalau kita lagi kesal,orang tua menegur, teman bikin sakit hati.


Reaksi pertama?


Ngambek?Diam? Marah? jawab dengan nada tinggi?


Pernah ga ade-ade menyesal setelah emosi itu keluar? Aaah andai saya tidak berkata demikian atau andai saya tidak menjawab dengan kasar..aaah andai saya tidak terbawa emosi dan marah


Boleh ga kita marah? Alkitab  berkata kita boleh marah asal jangan berbuat dosa.


Tapi yang jadi masalah adalah saat marah menguasai kita, kita jadi bereaksi tanpa pikir panjang.


Marah yang tidak terkendali jadi pintu untuk kita berbuat dosa.


Langkah yang dapat kita  lakukan saat kita sedang marah


1.Diam 

Jangan langsung respon, tenang dan tarik nafas


2.Berdoa

Walau hanya dalam hati berdoa mohon pertolongan Tuhan supaya diberi ketenangan dan memberikan respon yang benar


3.Pikirkan Dampaknya

Pikirkan dampaknya, jika kita menjawab atau bertindak seperti ini apakah dampaknya negatif, apakah menyakitinya, apakah merugikan?apakah berbuat dosa?


Firman Tuhan dalam Yakobus 1:19 yang kita baca hari ini mengajarkan pada kita untuk

* Cepat dengar

* Lambat bicara

* Lambat marah

Tuhan mau kita bertindak bijak dan benar.


Apakah sulit melakukannya? Apakah sulit mengendalikan marah? Sulit, ya pasti sulit, awalnya pasti kita tidak bisa mengendalikan marah kita, tetapi kita harus melatih diri kita, karena itu perintah Tuhan, kita bisa memohon pertolongan Tuhan, Roh Kudus akan menolong kita, memampukan kita sehingga sedikit demi sedikit kita pasti bisa mengendalikan marah kita.


Ade-ade selamat berproses, kiranya Tuhan Yesus senantiasa menolong kita untuk dapat mengendalikan emosi kita dan hidup seturut dengan kehendakNya.


Amin


Tuhan Yesus Memberkati


Kamu bisa mendengarkan renungan disini



Renungan Teruna, Jumat 10 April 2026

Petrus dan Kasih Tuhan (Ibrani 13:8) 

by Kak Dina Mabikafola 

Ibrani 13:8

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Ade-ade pernah tidak mengalami ditinggalkan? dikhianati?dikecewakan karena janji yang tidak ditepati?

Mungkin ada yang pernah berkata pada kita: “Aku akan selalu ada buat kamu.”

Beberapa waktu kemudian, saat kita butuh kehdirannya.... hilang.

Ada yang pernah janji: “Aku tidak akan mengecewakan tapi kenyataannya mengecewakan lagi.

Atau mungkin malah ade-ade yang pernah menghilang?buat janji dan mengecewakan? buat janji dan tidak ditepati?

Manusia dapat berubah dan gagal bahkan hal ini terjadi juga pada Murid Tuhan Yesus, murid yang bersama-sama dengan Tuhan Yesus 24/7

Siapakan murid itu? Petrus

Petrus adalah murid Tuhan Yesus yang pernah gagal dalam janji.

Tapi yang luar biasa adalah Petrus tetap dikasihi oleh Tuhan

Petrus berkata: “Tuhan, aku tidak akan meninggalkan Engkau!”

Beberapa jam kemudian…

Ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali.

Kalau itu kita, mungkin akan marah dan memutuskan hubungan sama Petrus..pokoknya end

Tapi Yesus tidak,setelah kebangkitan, Yesus bertanya:

Kembali pada Petrus “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Bukan untuk mempermalukan.

Tapi untuk memulihkan.

Itulah cinta Tuhan.

Tuhan sudah tahu kita akan gagal…

Tapi Dia tetap memilih mengasihi.

Dunia berkata: “Aku mencintaimu karena kamu berharga.”

Tuhan berkata: “Aku membuatmu berharga karena Aku mencintaimu.”


Mungkin kita pernah gagal dalam hubungan dengan Tuhan, gagal dalam komitmen rohani yang kita buat, gagal mengasihi Tuhan dengan sempurna,

tapi Tuhan tidak pernah gagal mengasihi kita

Kasih setia-Nya selalu baru setiap pagi.

Kegagalanmu tidak mengurangi nilai kasih Tuhan.

Seperti kasihNya pada Petrus, kasih yang sama, janji yang sama Tuhan nyatakan bagi kita anak-anakNya karena Dia adalah Tuhan yang tidak pernah berubah...seperti yang nyata dari Firman Tuhan dalam Ibrani 13 : 8

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya..Amin

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Kamis 09 April 2026

No Turning Back (Filipi 3:13-14) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Filipi 3:13-14

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Sering kali, yang membuat seseorang sulit maju dalam kehidupan rohaninya bukan karena ia tidak tahu tujuan hidupnya, tetapi karena ia masih terikat dengan masa lalu. Masa lalu itu bisa berupa kegagalan, dosa, rasa bersalah, atau bahkan kenyamanan lama yang sulit dilepaskan.

Dalam Filipi 3:13–14, Paulus menunjukkan bahwa kehidupan iman bukan tentang melihat ke belakang, melainkan tentang arah hidup ke depan. Ia memakai gambaran seorang pelari. Seorang pelari tidak akan pernah mencapai garis akhir jika ia terus menoleh ke belakang. Fokusnya harus tertuju pada tujuan di depan.

Hal yang menarik, Rasul Paulus tidak menyangkal bahwa masa lalu itu ada. Ia hanya memilih untuk tidak menjadikannya sebagai penghalang. Artinya, “melupakan” di sini bukan berarti menghapus ingatan, tetapi tidak membiarkan masa lalu menguasai arah hidupnya.

Adik-adik, masa lalu bisa menjadi beban yang berat. Mungkin ada kesalahan yang pernah dilakukan, hubungan yang tidak sehat, atau keputusan yang disesali. Semua itu bisa membuat kita merasa tidak layak untuk melangkah lebih jauh bersama Tuhan. Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa komitmen kepada-Nya berarti berani melepaskan beban tersebut dan percaya bahwa Tuhan memberikan masa depan yang baru.

“No Turning Back” juga berarti memiliki arah hidup yang jelas. Komitmen kepada Kristus bukan sekadar berhenti dari hal-hal yang salah, tetapi juga aktif mengejar tujuan yang benar, yaitu hidup sesuai dengan panggilan Tuhan. Tanpa arah yang jelas, seseorang akan mudah kembali ke kehidupan lamanya.

Karena itu, komitmen bukan hanya soal meninggalkan, tetapi juga soal mengejar. Meninggalkan dosa dan kebiasaan lama, sekaligus mengejar hidup yang berkenan kepada Tuhan setiap hari.

Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup dalam bayang-bayang masa lalu, tetapi untuk berlari menuju tujuan yang telah Ia siapkan. Mari belajar untuk tidak terus menoleh ke belakang, melainkan melangkah dengan iman, percaya bahwa Tuhan menuntun setiap langkah kita ke depan.

Have a nice day and God Bless.


Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Rabu 08 April 2026

Menjaga "streak" dengan Tuhan (1 Tesalonika 5:16–19) 

by Kak Daniel Hutauruk 

1 Tesalonika 5:16–19

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Janganlah padamkan Roh. 

Streak TikTok jadi fenomena yang lagi ramai saat ini. Simbol api yang muncul karena sering chatting di tiktok setiap hari dengan seseorang membuat banyak orang berusaha buat menjaga api itu gak mati. 

Tapi adik-adik, pernahkah kita merenung dan bertanya bagaimana dengan “streak” kita dengan Tuhan?

Sering kali kita sangat berusaha menjaga streak dengan teman sampai-sampai kita gak mau terlewat sehari pun untuk mengirim pesan. Tapi dalam kehidupan rohani, kita justru mudah melewatkan waktu doa, membaca firman, atau saat teduh. Padahal, hubungan dengan Tuhan Yesus jauh lebih penting daripada sekadar simbol api di sebuah aplikasi.

Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:17 berkata, “Tetaplah berdoa.” Ini bukan berarti kita harus berdoa tanpa henti secara harfiah sepanjang waktu, tetapi berbicara tentang kehidupan yang terus terhubung dengan Tuhan Yesus. 

Streak di TikTok bisa aja mati dan gak membawa dampak yang besar. Namun, ketika hubungan kita dengan Tuhan Yesus mulai jarang “terhubung” dan hati kita perlahan mulai menjauh dari Tuhan. Kita menjadi lebih mudah khawatir, kehilangan arah, dan kurang peka terhadap kehendak Tuhan.

Jadi, mari mulai membangun “streak” dengan Tuhan. Bukan demi simbol atau pencapaian, tetapi demi hubungan yang hidup dan bertumbuh.

Have a nice day and God Bless.


Renungan Teruna, Selasa 07 April 2026

Hidup Baru (2 Korintus 5:17) 

by Kak Rahayu Widya

2 Korintus 5:17

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Kadang kita bilang percaya Tuhan, tapi kalau dilihat dari hidup kita, rasanya tidak banyak yang berubah. Cara pikir masih sama, kebiasaan lama masih diulang, respon terhadap masalah juga masih seperti dulu.


Padahal firman Tuhan jelas bilang: siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Artinya, identitas kita sudah berubah. Kita bukan lagi orang yang sama seperti dulu.


Masalahnya, sering kali kita masih nyaman dengan “versi lama”. Masih pegang luka lama, masih simpan kebiasaan yang sebenarnya Tuhan mau ubahkan. Kita tahu kita sudah baru, tapi kita belum benar-benar hidup sebagai orang baru.


Hidup baru itu bukan berarti langsung sempurna. Tapi ada proses hari demi hari kita belajar berubah. Cara pikir mulai diperbaiki, hati mulai dilembutkan, dan langkah hidup mulai diarahkan Tuhan.


Dan yang penting, hidup baru itu adalah pilihan.

Setiap hari kita memilih mau kembali ke pola lama, atau berani hidup sesuai identitas yang Tuhan sudah kasih.


Karena Yesus hidup, kita punya kuasa untuk berubah.

Bukan nanti kalau sudah siap, tapi mulai dari sekarang.


Refleksi:

Apa satu hal dalam hidupku yang masih “versi lama” dan perlu aku tinggalkan hari ini?


Kiranya Roh kudus menolong kita untuk meninggalkan versi lama hidup kita dan diubah menjadi hidup yg baru untuk kemuliaan nama Tuhan

Aminnn

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Senin 06 April 2026

Because He Lives (Yohanes 14:19) 

by Kak Rahayu Widya

Yohanes 14:19

“…sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.”

Kemarin kita semua merayakan Paskah yg bukan sekadar tradisi tahunan, tapi peristiwa terbesar dalam iman Kristen: Yesus bangkit dari kematian.

Sering kali kita hanya melihat Paskah sebagai momen sukacita, tapi lupa maknanya yang sangat pribadi. Kebangkitan Yesus bukan hanya kemenangan-Nya, tapi juga jaminan untuk hidup kita hari ini dan hari esok.

Dunia tetap sama, masalah tetap ada, ketakutan masih nyata, dan masa depan kadang terasa tidak pasti.

Tapi Paskah mengubah cara kita melihat semuanya.

Kubur yang kosong adalah bukti bahwa:

harapan tidak pernah mati

kegagalan bukan akhir

bahkan kematian pun sudah dikalahkan

Karena Dia hidup, kita tidak lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Karena Dia hidup, kita punya keberanian untuk melangkah, sekalipun kita belum tahu apa yang akan terjadi besok.

Karena Dia hidup, kita punya pengharapan yang tidak tergantung keadaan.


Paskah mengingatkan kita:

iman kita bukan tentang Tuhan yang jauh, tapi Tuhan yang hidup dan hadir.

Jadi kemarin, saat kita merayakan Paskah, bukan cuma berkata “Dia bangkit”

tapi juga percaya:

“Karena Dia hidup, aku bisa menghadapi hari esok.”


Refleksi:

Apa yang selama ini membuat ade - ade takut menghadapi masa depan?

Hari ini, lewat Paskah, maukah ade - ade mempercayakan itu kepada Tuhan yang sudah mengalahkan maut?


Kiranya Roh kudus memampukan kita untuk hidup penuh pengharapan kepada Kristus 

Aminn

Renungan Teruna, Kamis 02 April 2026

PALMARUM (Matius 21:9) 

by Kak Dina Mabikafola 

Matius 21:9

Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi.

Ade-ade saat ibadah hari minggu, 29 maret kemarin  khotbah Pak Pdt.Guntur H.M. diawali dengan beliau yang menjelaskan tentang dekorasi  Gereja yang hari itu banyak di hiasi dengan Daum Palem karena minggu kemarin memperingati dengan minggu palmarum.

Minggu Palmarum adalah hari dalam kalender gereja yang memperingati ketika Yesus Kristus masuk ke Yerusalem dan disambut oleh orang banyak dan mereka bersorak:

“Hosana bagi Anak Daud!”

Mereka menghamparkan daun palma dan pakaian mereka di jalan. Suasana sangat meriah seperti menyambut seorang pahlawan besar.

Orang banyak menyambut Yesus dengan sorak-sorai. Mereka berharap Yesus menjadi Raja yang akan membebaskan mereka dari penjajahan.

Namun kenyataannya beberapa hari kemudian, orang-orang yang sama berteriak:

“Salibkan Dia!”

Kenapa bisa berubah?

Karena mereka punya harapan yang salah tentang Yesus.

Mereka mau Yesus yang sesuai dengan keinginan mereka.

Hosana … Hosana” Teriakan mereka ini mengharapkan pembebasan dari penindasan yang pada waktu itu Israel ada dalam kekuasaan Romawi. Namun, harapan mereka ini berlawanan dengan misi Yesus yang lebih dalam, yaitu keselamatan

“Hosana bagi Anak Daud!”

Tapi hanya beberapa hari kemudian…

dari mulut yang sama, keluar teriakan...

“Salibkan Dia!”

Yang dulu memuji, sekarang menolak.

Yang dulu menyambut Yesus Kristus sebagai Raja, sekarang menyerahkan-Nya untuk disalibkan.


Ade-ade terkadang Tuhan memiliki rencana yang berbeda dari apa yang kita harapkan dan pikirkan.

Sebagai remaja tentunya juga kita memiliki impian dan harapan akan tetapi terkadang Tuhan mungkin memimpin kita ke arah yang berbeda. 

Hari ini kita mau belajar agar tidak seperti orang-orang di Yerusalem dari mulut yang sama keluar pujian dan penolakan.

Saat segala sesuatu terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan inginkan,

Tetaplah percaya dan membuka hati untuk memahami bahwa rencanaNya adalah yang terbaik dalam hidup kita.Amin


Tuhan Yesus memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini