Renungan Teruna, Rabu 01 April 2026

APRIL MOP (1 Korintus 10:23-24) 

by Kak Dina Mabikafola 

1 Korintus 10:23-24

"Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.

Welcome April…. Puji Tuhan hari ini kita memasuki bulan yang baru, semangat selalu ade-ade

Tanggal 1 April diperingati sebagai hari April Mop atau April Fools day dimana orang-orang diperbolehkan untuk melakukan kebohongan atau melontarkan lelucon kepada orang lain tanpa merasa bersalah.

Pada momen ini, orang-orang dari berbagai belahan dunia merayakan dengan melakukan tipuan dan lelucon dengan maksud untuk mengibur tentunya, biasanya mereka akan berlomba-lomba membuat lelucon yang paling heboh dan menggemparkan. 

Dalam tradisi ini orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, musuh, teman bahkan  tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan. Namun sesungguhnya tak ada sejarah pasti tentang mengapa orang-orang begitu antusias menyambut bulan keempat ini dengan perayaan April Mop.

Sebagai anak muda kita berfikir apakah kita boleh ikut-ikutan dengan hal-hal tersebut? Kadangkala kita berfikir kan ini hanya buat lelucon saja atau bersenang-senang dan tidak lebih dari pada itu.

Firman Tuhan dalam 

1 Korintus 10:23-24 berkata

 Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain"

Dalam ayat diatas Paulus mengajarkan 2 Prinsip PENTING yaitu PRINSIP MEMBANGUN DAN PRINSIP KEBERGUNAAN Ada banyak hal didalam pikiran kita yang kita bertanya-tanya ini atau itu boleh atau tidak ya? jika kita bingung maka terapkan 2 Prinsip diatas, apakah itu membangun kehidupanmu dan juga orang-orang disekitarmu? Dan yang kedua apakah itu memiliki kebergunaan bagi dirimu dan juga orang lain. Jika “hal-hal” itu tidak memenuhi 2 syarat diatas tentunya itu tidak perlu untuk kita lakukan.

Ade-ade ada hal yang menyedihkan ketika orang-orang merayakan April Mop dengan melakukan hal-hal yang “diluar batas kewajaran” sehingga membuat orang lain sedih bahkan “dipermalukan” dan menjadi bahan tertawaan orang lain. 

Sebagai Anak Tuhan ada banyak cara untuk kita menciptakan kebahagiaan bersama dan jangan pernah kehilangan Empati buat orang lain.

Ade-ade hari ini kita diingatkan dan belajar

 -untuk menerapkan 2 prinsip yang Paulus ajarkan kepada kita yaitu prinsip membangun dan prinsip kebergunaan 

-untuk tetap menjadi pembawa sukacita Kristus didalam kehidupan kita, kepada orang-orabg di sekitar kita dan tentunya dengan cara yang tepat dan menjadi berkat.

Tuhan Yesus Memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Selasa 31 Maret 2026

Karya Terbesar (Yohanes 19:30) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Yohanes 19:30

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Adik-adik, sering kali kita terpacu untuk menghasilkan sesuatu yang besar seperti prestasi di sekolah, pengakuan dari orang lain, atau pencapaian yang membuat kita bangga. Dunia mengajarkan bahwa “karya terbesar” adalah sesuatu yang terlihat hebat di mata manusia. Namun, firman Tuhan mengarahkan kita untuk melihat sebuah karya yang jauh lebih agung, yang tidak bisa ditandingi oleh apa pun di dunia ini.

Ketika Yesus berkata, “Sudah selesai,” itu bukan sekadar tanda berakhirnya penderitaan-Nya di kayu salib. Itu adalah deklarasi kemenangan. Karya terbesar dalam sejarah manusia telah diselesaikan yaitu penebusan dosa umat manusia. Yesus, yang tidak berdosa, rela menggantikan manusia yang berdosa. Ia menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, agar kita memperoleh hidup yang kekal. 

Adik-adik, penting untuk kita memahami bahwa karya terbesar bukanlah tentang apa yang kita capai, melainkan tentang apa yang Kristus telah lakukan bagi kita. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah. Ini menjadi dasar identitas kita yaitu bahwa kita dikasihi, ditebus, dan dipulihkan oleh karya Kristus.

Karya terbesar bukanlah tentang kita, tetapi tentang Kristus. Apa yang telah Ia selesaikan di kayu salib menjadi bukti kasih Allah yang sempurna. Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita hidup bukan untuk mengejar pengakuan dunia semata, tetapi untuk memuliakan Tuhan yang telah menyelesaikan karya terbesar bagi kita.

Renungan Teruna, Senin 30 Maret 2026

Bukti KASIH Terbesar (Roma 5:8) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Roma 5:8

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Adik-adik, sering kali kita mengukur kasih dari apa yang kita terima. Kalau doa dijawab, kita merasa Tuhan Yesus mengasihi kita. Kalau keinginan kita terpenuhi, kita merasa Tuhan Yesus itu baik.

Namun kutipan khotbah Pak Pdt. Guntur di ibadah minggu kemarin mengingatkan sesuatu yang sangat penting yaitu Bukti kasih Allah yang terbesar BUKANLAH bahwa Ia memberikan apa yang paling kita inginkan di dunia ini, MELAINKAN bahwa Yesus Kristus rela menjadi pengganti kita, tepat pada saat kita paling layak untuk dibinasakan ke dalam neraka.

1. Kasih Tuhan bukan tentang memenuhi keinginan kita

Sebagai remaja, kita sering berharap dapet nilai yang bagus, atau keingin kita terkabul. Lalu kita berpikir, “Kalau Tuhan Yesus kasih itu semua, berarti Dia sayang sama aku". Padahal, kasih Tuhan tidak diukur dari situ. Kalau kasih Tuhan hanya diukur dari apa yang kita dapat, maka saat kita tidak mendapatkannya, kita bisa meragukan Tuhan. Kasih Tuhan Yesus jauh lebih dalam dari sekadar pemberian sementara.

2. Kita sebenarnya tidak layak, tetapi tetap dikasihi

Adik-adik, Alkitab berkata bahwa manusia berdosa dan seharusnya menerima konsekuensi dari dosa itu. Namun, Tuhan Yesus datang dan mengambil tempat kita. Dia menerima yang seharusnya kita terima, supaya kita menerima yang seharusnya Dia miliki. Ini bukan karena kita baik, tetapi karena kasih karunia Tuhan.

3. Salib adalah bukti kasih yang tidak terbantahkan

Roma 5:8 menegaskan:
Yesus mati ketika kita masih berdosa.

Artinya: Tuhan Yesus mengasihi kita sebelum kita layak, Tuhan Yesus gak menunggu kita sempurna, Tuhan Yesus mengambil inisiatif terlebih dahulu. Inilah bukti kasih terbesar yaitu pengorbanan, bukan pemberian yang menyenangkan.

Yukk renungkan apakah selama ini kita mengukur kasih Tuhan dari apa yang kita dapat? apakah kita masih bersyukur saat hidup gak sesuai keinginan kita? bagaimana respons kita terhadap pengorbanan Yesus?

Langkah praktis yang bisa kita lakukan adalah belajar bersyukur, bukan hanya saat keadaan baik, mengingat salib setiap kali merasa Tuhan itu kayak gak adil, dan hidup benar sebagai bentuk respon kasih.

Jadi ketika kita ragu akan kasih Tuhan, jangan lihat keadaan, tapi lihatlah salib. Karena di sanalah bukti kasih terbesar dinyatakan untuk kita.

Renungan Teruna, Selasa 24 Maret 2026

Jangan Libur dari Tuhan (Efesus 5:16-17) 

by Kak Dina Mabikafola 

Efesus 5:16-17

dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 

Lebaran adalah momen yang sangat spesial bagi saudara-saudara kita yang Muslim. Suasana jadi berbeda,jalan ramai, banyak orang mudik, saling bermaafan, berbagi makanan, dan penuh sukacita. Dan bagi kita, kita pun merasakan sukacita karena LIBUR...yes..LIBUR PANJANG. Libur Lebaran itu enak, panjang.... Tidak sekolah, tidak tugas, bisa rebahan, main, scroll HP seharian, nonton tanpa batas.

Tapi..jujur…

Saat libur Lebaran datang, tiba-tiba hidup kita berubah total, bener ga?

* Waktu untuk Tuhan? Perlahan berkurang dan mulai Hilang

* Saat teduh? Mulai Ditunda dan jadinya kelupaan

* Ibadah? Teruna libur jadi kayanya izin aja deh Tuhan.

* HP? Ini yang meningkat jadi semakin tidak pernah lepas


Selama libur, kita bisa main hp berjam-jam tanpa bosan

Tapi 10 menit baca firman terasa berat


Ade-ade berapa banyak waktu libur yang benar-benar kita pakai dengan bijak?

Seringkali yang terjadi:

* Bangun siang, tidur lagi

* HP tidak lepas dari tangan


Kita punya banyak waktu… tapi justru makin jauh dari Tuhan.

kita libur,justru Tuhan yang paling sering “diliburkan”


Ade-ade jangan sampai, kita rajin ibadah hanya saat sibuk di sekolah, tapi saat libur… kita juga “libur” dari Tuhan

Padahal, hubungan dengan Tuhan itu bukan kewajiban mingguan.

Itu hubungan setiap hari.

Kalau saat libur kita tidak mencari Tuhan,

mungkin selama ini kita dekat dengan Tuhan, hanya karena keadaan, bukan karena kerinduan.


Mari kita mengisi Libur Lebaran ini dengan hal yang positif


1. Tetap punya waktu khusus dengan Tuhan

Stop cari alasan....

Mulai sekarang:

Bangun, cari Tuhan dulu sebelum HP, paksa diri, doa, saat teduh, tidak perlu lama, tapi harus konsisten


2. Gunakan waktu untuk meningkatkan hubungan dengan keluarga

* Quality time dengan orangtua atau saudara,apalagi kalau saudara kita kerja atau kuliah di luar kota pakai waktu libur ini untuk kebih banyak waktu bersama saudara


3. Jangan habiskan waktu hanya untuk hal yang sia-sia

* Main boleh, tapi jangan sampai lupa segalanya

* Kurangi scroll yang tidak membangun


4. Jadi berkat

* Bantu orang tua di rumah

* Kunjungi saudara


Libur bukan masalah.

Yang masalah adalah hati yang memilih menjauh.


Di waktu libur ini, kalau ade-ade mulai menjauh, mari kembalikan, tempatkan Tuhan di posisi pertama dalam hidupmu, pergunakan waktu yang ada untuk selalu dekat dengan Tuhan.


Happy holiday ade-ade...

Tuhan Yesus memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Senin 23 Maret 2026

"Sasada Ho" (Mazmur 73:25) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Mazmur 73:25

"Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi."

"Sasada Ho" adalah bahasa Batak yang artinya "Hanya kamu", kita pasti sering mendengar ungkapan tersebut. Biasanya ungkapan ini dipakai untuk menunjukkan rasa sayang, kedekatan, atau bahkan ketergantungan kepada seseorang. Tidak jarang, kata ini diucapkan kepada sahabat, pasangan, atau orang yang sangat kita hargai.

Namun, sebagai anak Tuhan, kita perlu bertanya Apakah “sasada ho” dalam hidup kita sudah kita arahkan kepada Tuhan Yesus?

1. Tuhan adalah satu-satunya yang tidak pernah berubah

Manusia bisa berubah. Sahabat bisa menjauh. Orang yang kita anggap penting bisa mengecewakan. Bahkan perasaan kita sendiri bisa berubah sewaktu-waktu.

Mazmur 73:25 menunjukkan hati yang sadar bahwa hanya Tuhan yang benar-benar layak menjadi pusat hidup. Ketika pemazmur berkata, “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi,” itu bukan berarti ia tidak memiliki apa-apa, tetapi ia memilih Tuhan sebagai yang utama.

Artinya adalah “Sasada ho” yang sejati seharusnya ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada manusia.

2. Hati manusia sering salah menempatkan “yang utama”

Sebagai remaja, kita mudah menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai pusat hidup, seperti gadget, pacar, popularitas atau penerimaan dari teman. Tanpa sadar, hal-hal itu menjadi “sasada ho” kita. Padahal, ketika kita menggantungkan hidup pada hal-hal tersebut, kita akan mudah kecewa. Kenapa? Karena semua itu terbatas dan tidak sempurna. Adik-adik, Tuhan tidak melarang kita punya teman atau kesenangan. Tetapi Tuhan mau kita tetap menjadikan Dia yang nomor satu.

3. Menjadikan Tuhan sebagai “Sasada Ho” dalam hidup

Bagaimana caranya?

1. Mengutamakan hubungan dengan Tuhan

2. Mengandalkan Tuhan dalam setiap keputusan

3. Tetap setia walau keadaan tidak sesuai harapan

Ketika kita berkata kepada Tuhan:

“Sasada Ho Tuhan” itu berarti kita memilih Tuhan di atas segalanya, kita percaya Tuhan lebih dari apa pun, kita tetap setia, apapun yang terjadi.

“Sasada ho” bukan sekadar ungkapan perasaan, tetapi keputusan hidup.
Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang utama, hidup kita akan lebih kuat, lebih terarah, dan tidak mudah goyah.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Jumat 20 Maret 2026

Berani Berubah (Roma 12:2) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Roma 12:2

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”

Perubahan bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi remaja. Kadang kita sudah tahu apa yang benar, tetapi tetap sulit untuk berubah. Kita takut tidak diterima teman, takut dianggap berbeda, atau merasa nyaman dengan kebiasaan lama.

Namun Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil bukan untuk ikut arus dunia, tetapi untuk berani berubah sesuai dengan kehendak-Nya.

1. Tidak Serupa dengan Dunia

Roma 12:2 dengan tegas berkata: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.”
Artinya, kita tidak dipanggil untuk hidup sama seperti kebanyakan orang.

Dunia sering mengajarkan kita untuk ikut-ikutan supaya diterima, membalas kejahatan dengan kejahatan, mengutamakan diri sendiri.

Tetapi Tuhan memanggil kita untuk hidup berbeda dengan cara tetap benar walau sendirian, mengampuni, bukan membalas dan mengasihi, bukan membenci

Berani berubah berarti berani tampil beda karena hidup kita milik Tuhan.

2. Perubahan Dimulai dari Pikiran

Firman Tuhan mengatakan bahwa perubahan terjadi melalui pembaharuan budi (pikiran).

Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi cara kita bersikap, cara kita mengambil keputusan dan cara kita melihat hidup

Kalau pikiran kita masih dipenuhi hal-hal yang tidak baik, maka hidup kita juga tidak akan berubah.

Karena itu, penting bagi kita untuk mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan, menjaga apa yang kita lihat dan dengar, belajar berpikir sesuai kebenaran Tuhan

Perubahan sejati dimulai dari dalam, bukan dari luar.

3. Perubahan Membutuhkan Keberanian

Berubah itu gak nyaman. Kadang kita harus meninggalkan kebiasaan lama, menjauh dari pergaulan yang tidak sehat, dan mengakui kesalahan dan memperbaiki diri

Semua itu butuh keberanian.

Tapi ingat, kita tidak berjalan sendiri. Tuhan menyertai dan memberi kekuatan.
Ketika kita berani mengambil langkah untuk berubah, Tuhan akan menolong kita bertumbuh.

Sebagai anak-anak Tuhan, kita bisa mulai berani berubah melalui hal-hal sederhana adalah berani berkata “gak” pada hal yang salah, berani memperbaiki kebiasaan buruk, berani membangun kebiasaan rohani, dan berani jadi terang di lingkungan.

Berani berubah bukan berarti kita langsung sempurna, tetapi kita memilih untuk terus bertumbuh setiap hari.

Tuhan Yesus gak cari orang yang sempurna, tetapi orang yang mau dibentuk.
Hari ini, mari kita ambil keputusan: berani berubah untuk menjadi lebih seperti Kristus.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Kamis 19 Maret 2026

Follow Kehendak Tuhan (Roma 12:2) 

by Kak Rahayu Widya

Roma 12 : 2

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Kadang kita bilang kita mau ikut Tuhan, tapi jujur aja… yang kita harapkan itu Tuhan ikut rencana kita.

Kita doa:

“Tuhan, aku mau ini ya…”

“Tuhan, buka jalan yang ini ya…”

Tanpa sadar, kita bukan lagi follow Tuhan, tapi minta Tuhan yang follow kita.

Padahal jadi pengikut Kristus itu artinya:

bukan Tuhan yang menyesuaikan hidup-Nya dengan kita,

tapi kita yang menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Tuhan.

Masalahnya, kehendak Tuhan itu nggak selalu nyaman.

Kadang Tuhan minta kita sabar, padahal kita pengen cepet.

Kadang Tuhan minta kita lepas sesuatu, padahal kita sayang banget.

Kadang Tuhan bawa kita ke jalan yang kita nggak ngerti.

Dan di situ biasanya kita mulai ragu:

“Ini beneran dari Tuhan nggak ya?”

“Atau ini bukan yang aku mau aja?”


Mengikut kehendak Tuhan itu bukan soal perasaan enak,

tapi soal percaya.

Percaya kalau Tuhan lebih tahu.

Percaya kalau rencana-Nya nggak pernah salah.

Percaya kalau sekalipun jalannya beda, hasilnya tetap baik.


Refleksi:

Coba ade-ade ambil waktu sebentar, jujur sama diri sendiri…

Apakah selama ini aku benar-benar mau ikut kehendak Tuhan…

atau aku cuma mau Tuhan setuju sama kehendakku?

Apa ada hal yang Tuhan sudah bilang “jangan”, tapi aku masih pertahanin?

Apa ada langkah yang Tuhan minta aku ambil, tapi aku tunda terus?

Kalau hari ini Tuhan minta aku percaya tanpa ngerti,

aku mau tetap ikut… atau mundur?


Mengikut Tuhan itu bukan cuma saat semuanya jelas,

tapi justru saat kita nggak ngerti, tapi tetap melangkah.

Bukan saat semuanya gampang,

tapi saat kita tetap taat walaupun berat.


Hari ini, mungkin bukan soal ade - ade sudah sejauh apa ikut Tuhan,

tapi apakah kamu benar-benar mau menyerahkan arah hidupmu kepada Tuhan


Mengikut Tuhan itu bukan tentang hidup yang selalu mudah,

tapi tentang arah yang benar.

Karena hidup yang kelihatannya lancar tanpa Tuhan,

ujungnya bisa kosong.

Tapi hidup yang mungkin terasa berat bersama Tuhan,

ujungnya pasti tidak pernah sia-sia.


Jadi hari ini, pilihannya sederhana:

mau tetap jalan dengan kehendak sendiri…

atau mulai belajar berkata,

“Tuhan, aku mau follow kehendak-Mu.”


Kiranya Roh Kudus menuntun kita untuk selalu tunduk pada kehendak Tuhan

Aminn

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Rabu 18 Maret 2026

Balik ke Realita (Yohanes 16:33) 

by Kak Rahayu Widya

Yohanes 16:33

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Ada satu hal yang sering kita rasain setelah retreat… Selama di sana, semuanya terasa dekat. Doa terasa hidup. Pujian terasa dalam. Hati terasa lembut, gampang tersentuh.

Tapi… begitu pulang, semuanya mulai berubah. Rutinitas balik lagi. Masalah yang kemarin ditinggal… ternyata masih nunggu. Tekanan, tugas, overthinking semua datang lagi.

Dan pelan-pelan, ade-ade mulai ngerasa:

“Yang kemarin aku rasain itu ke mana ya?”

Ade-ade mulai turun. Bukan karena ade-ade nggak sungguh-sungguh, tapi karena realita memang nggak selalu seindah suasana retreat.


Dan di titik itu, banyak orang mulai berpikir… “Ya udah, mungkin emang cuma momen aja.”

Padahal sebenarnya, yang berubah bukan Tuhan… tapi suasana.

Di Yohanes 16:33, Tuhan bilang: “Dalam dunia ade-ade akan mengalami kesulitan…”

Tuhan nggak pernah janji hidup jadi lebih gampang setelah dekat sama Dia.

Tapi Dia janji satu hal: Dia menyertai.

Artinya, kehidupan setelah retreat itu bukan tentang hidup tanpa masalah,

tapi tentang hidup dengan cara yang berbeda di tengah masalah yang sama.


Masalahnya mungkin masih itu-itu juga.

Lingkungan mungkin belum berubah.

Orang-orang di sekitar ade-ade mungkin masih sama.


Tapi sekarang…

ade-ade yang seharusnya beda.


Beda cara respon.

Beda cara berpikir.

Beda cara bertahan.


Karena kalau semua hanya berhenti di retreat,

itu cuma jadi kenangan.

Tapi kalau ade-ade bawa ke kehidupan sehari-hari,

itu jadi perubahan.


Mungkin hari-hari ke depan nggak selalu terasa “rohani”.

Nggak selalu ada momen haru.

Nggak selalu hati terasa hangat.


Tapi justru di situlah iman diuji.

Bukan saat suasana mendukung,

tapi saat semuanya biasa aja… bahkan berat.


Dan mungkin hari ini Tuhan nggak tanya,

“Seberapa dalam ade-ade tersentuh di retreat?”

Tapi Tuhan tanya,

“Apa yang ade-ade lakukan setelah pulang?”


Karena iman yang nyata bukan terlihat di tempat khusus,

tapi di kehidupan sehari-hari.


Jadi waktu ade-ade balik ke realita…

ingat satu hal sederhana ini:


Tuhan yang ade-ade rasain di retreat kemarin,

adalah Tuhan yang sama

yang berjalan bareng ade-ade hari ini


Refleksi


Coba ambil waktu sebentar…

jujur sama diri sendiri di hadapan Tuhan.


Apakah yang ade-ade rasakan di retreat kemarin

masih dijaga sampai hari ini?


Atau perlahan mulai pudar

karena kesibukan dan keadaan?


Apa satu hal yang Tuhan sudah bicara ke ade-ade waktu retreat,

tapi sampai sekarang belum dilakukan?


Nggak perlu langsung banyak.

Cukup satu langkah kecil…

tapi benar-benar dilakukan.


Karena perubahan yang nyata

selalu dimulai dari keputusan sederhana

yang dilakukan dengan konsisten.


Kiranya Roh Kudus menguatkan iman kita agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Selasa 17 Maret 2026

EMOSI (Efesus 4:31-32) 

by Kak Dina Mabikafola 

Efesus 4:31–32

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Matius 5 : 9

Berbahagialah orang yang membawa damai.

Hari Sabtu tanggal 14 maret minggu lalu, terjadi tawuran antara pelajar SMAN 5 Bandung dan SMAN 2 Bandung di kawasan Cihampelas. Peristiwa yang terjadi setelah kegiatan buka puasa bersama itu berujung tragis karena satu siswa meninggal dunia akibat dugaan pengeroyokan. 

Video kejadian tersebut viral di media sosial dan membuat banyak orang sedih sekaligus prihatin melihat bagaimana konflik antar pelajar bisa sampai merenggut nyawa. 

Peristiwa ini bukan hanya soal tawuran. Ini juga menjadi cermin bagi generasi muda tentang bagaimana emosi, gengsi, dan tekanan kelompok bisa membuat seseorang melakukan hal yang sangat fatal.

Ade-ade coba bayangkan ..
Mungkin pada sore hari itu semuanya masih terasa biasa saja.
Ada yang: bercanda dengan teman, main HP, pulang sekolah, bersiap Bukber, merencanakan masa depan. Tidak ada yang berpikir bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir bagi seseorang.

Satu pertengkaran.
Satu emosi yang tidak terkendali.
Satu keputusan yang salah.
ada hidup banyak orang berubah selamanya.

Ade-ade tawuran tidak pernah dimulai di Jalan, tawuran sebenarnya tidak dimulai ketika orang mulai memukul. Tawuran dimulai jauh sebelumnya yaitu di hati.,saat seseorang berkata dalam hati:
 “Aku tidak terima dihina.” Aku harus balas
Sedikit demi sedikit amarah bertumbuh seperti api kecil.
Dan jika tidak dihentikan, api kecil itu bisa membakar semuanya.

Sering kali orang hanya melihat perkelahian yang terjadi.
Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang lebih dalam yaitu hati kita.
Yesus tahu:
* ketika kita menyimpan dendam
* ketika kita ingin membalas
* ketika kita membenci seseorang
Dan Yesus tahu bahwa hati yang dipenuhi amarah tidak pernah membawa damai.

Hari ini ada keluarga yang kehilangan anak.
Ada orang tua yang mungkin masih berkata:
“Seandainya waktu bisa diputar kembali.”

Ada teman yang mungkin menyesal:
“Seandainya aku menghentikannya.”

Tetapi hidup tidak bisa diputar ulang.

Itulah sebabnya Tuhan memperingatkan kita sebelum semuanya terlambat. kita Dipanggil Berbeda
Dunia sering berkata:
* “Kalau dihina, balas.”
* “Kalau diserang, lawan.”
* “Jangan terlihat lemah.”
Tetapi Yesus berkata sesuatu yang berbeda:
 “Berbahagialah orang yang membawa damai.” (Matius 5:9)
Menjadi pembawa damai bukan berarti lemah.
Justru dibutuhkan hati yang jauh lebih kuat untuk:
* menahan amarah
* mengampuni
* tidak membalas

Sebagai remaja, kita sering berada di situasi seperti ini:
* ikut teman karena takut dianggap pengecut
* terbawa emosi ketika dihina
* membela “nama sekolah” atau kelompok
* merasa keren ketika ikut keributan
Tetapi Tuhan memanggil kita bukan menjadi pembuat masalah, melainkan pembawa damai.*
Kadang kita berpikir:
 “Ah cuma tawuran biasa.”
Namun kenyataannya:
* satu keluarga kehilangan anak
* masa depan seseorang hilang
* banyak orang menyesal seumur hidup
Satu keputusan yang salah bisa mengubah hidup selamanya.

# Apa yang Tuhan Mau untuk kita lakukan sebagai remaja Kristen?

1. Berani berkata tidak
Kadang keberanian terbesar bukan ikut berkelahi, tetapi menolak ikut keributan.

 2. Jangan hidup demi gengsi
Yesus tidak pernah mengajarkan kita untuk membela harga diri dengan kekerasan.

3. Jadilah pembawa damai
Remaja Kristen dipanggil untuk menjadi penyejuk di tengah konflik, bukan pemicu.

Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk berubah.
Hati yang keras bisa dilembutkan.
Hati yang penuh amarah bisa dipenuhi kasih.
Jika Kristus memerintah dalam hati kita, kita tidak akan menjadi sumber kekerasan.
Kita akan menjadi sumber damai. bagi kemuliaan namaNya..Amin

Renungan Teruna, Senin 16 Maret 2026

WASPADALAH (1 Petrus 5:8) 

by Kak Dina Mabikafola 

1 Petrus 5:8

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Kemarin kita baru saja retreat, gimana perasaan ade-ade saat ini? Semangatnya pasti masih terasa?Ada yang kangen ingin retreat lagi? Ada ga sih yang masih senyum-senyum sendiri karena inget kejadian lucu or seru saat retreat? Atau ada ga yang jadi kangeeeen banget sama Tuhan, ingin selalu nyanyi lagu rohani, baca Firman Tuhan, berdoa?

Saat retreat, biasanya kita merasa sangat dekat dengan Tuhan.

* Hati diubahkan saat mendengarkan Firman

* Hati tersentuh saat menyanyikan lagu 

* Menangis saat doa dan penyembahan

* Banyak komitmen baru dibuat.

Rasanya seperti berada di tempat yang sangat dekat dengan Tuhan.

Seperti khotbah Pak Pendeta Guntur dalam ibadah hari minggu / sesi ke-4 kemarin

Retreat ini baru tahap "Sign up" atau "Login" 

Tantangan sebenarnya dimulai setelah retreat 


Setelah retreat selesai, kita kembali ke kehidupan biasa

* kembali ke sekolah (hmmm saat ini sih sedang libur yah)

* kembali ke pergaulan lama

* kembali ke HP, game, media sosial

* kembali ke godaan dosa


Sering kali yang terjadi adalah:

* saat retreat sangat semangat

* beberapa minggu kemudian: mulai dingin lagi

Jangan sampai kita hanya berubah di retreat, tetapi tidak berubah di kehidupan sehari-hari.


Tuhan tidak hanya mau kita:

* menangis saat doa

* mengangkat tangan saat worship

* membuat komitmen 


Seperti Tema Retreat kita NEXT LEVEL, Tuhan rindu kita hidup naik tingkat, hidup berakar, bertumbuh dan berbuah dalam Tuhan

-semakin rajin memulai hari bersama Tuhan,dengan doa dan baca firman

-Mulai jaga pergaulan

-Mulai jaga ucapan, pikiran dan tindakan kita 


Perubahan kecil yang dilakukan setiap hari lebih berharga daripada emosi sesaat di retreat.


Jaga hubungan dengan Tuhan setiap hari!!! WASPADALAH karena Iblis tidak akan tinggal diam, dia akan menyerang kita,Iblis tidak senang kita dekat dengan Tuhan, Iblis tidak suka kita naik tingkat lebih dekat sama Tuhan dia akan berusaha membuat kita jauh dari Tuhan


Waspadalah!!! TETAP jaga Hubungan Pribadi dengan Tuhan.


Tuhan Yesus memberkati


Renungan Teruna, Jumat 13 Maret 2026

Today is the Day! (Mazmur 27:4) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Mazmur 27:4

"Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya."

Adik-adik, hari ini adalah hari yang istimewa karena hari ini kita memulai Retreat Teruna. Hari ini bukan hanya sekadar hari untuk melakukan kegiatan bersama atau keluar dari rutinitas sehari-hari, tetapi hari ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk lebih dekat dengan-Nya.

Sering kali dalam kehidupan sehari-hari kita begitu sibuk dengan berbagai hal seperti sekolah, tugas, kegiatan, bahkan hiburan sehingga waktu kita bersama Tuhan menjadi sangat sedikit. Tanpa kita sadari, hati kita bisa menjadi jauh dari Tuhan karena perhatian kita dipenuhi oleh banyak hal lainnya.

Karena itu, retreat menjadi waktu yang sangat berharga. Melalui retreat ini, Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menenangkan hati, dan kembali memusatkan perhatian kita kepada Tuhan.

Selama retreat ini kita akan mendengarkan firman Tuhan, berdoa bersama, serta membangun kebersamaan dengan teman-teman. Semua itu adalah kesempatan yang Tuhan pakai untuk menolong kita semakin mengenal-Nya dan semakin bertumbuh dalam iman.

Adik-adik, supaya retreat ini benar-benar menjadi berkat, mari kita mengikuti setiap kegiatan dengan sikap yang sungguh-sungguh. Dengarkan firman Tuhan dengan hati yang terbuka, ikuti kegiatan dengan semangat, dan bangunlah kebersamaan yang baik dengan teman-teman.

Ingatlah bahwa Today is the day, hari ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Jangan sia-siakan waktu ini. Biarlah melalui retreat ini, kita semakin dekat dengan Tuhan dan semakin dikuatkan dalam iman.

Kiranya Tuhan memberkati setiap kegiatan yang akan kita jalani selama retreat ini. Selamat mengikuti Retreat Teruna. Tuhan Yesus memberkati kita semua

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Kamis 12 Maret 2026

Mari Berdoa untuk Retreat Teruna (1 Tesalonika 5:17) 

by Kak Daniel Hutauruk 

1 Tesalonika 5:17

"Tetaplah Berdoa"

Hari Jumat nanti kita akan melaksanakan kegiatan retreat. Retreat bukan hanya sekadar kegiatan berkumpul, bermain bersama, atau pergi ke tempat yang berbeda dari biasanya. Retreat adalah kesempatan yang Tuhan berikan supaya kita bisa lebih dekat dengan-Nya, belajar dari firman Tuhan, dan membangun kebersamaan sebagai satu keluarga dalam persekutuan.

Namun kita perlu menyadari bahwa keberhasilan sebuah retreat bukan hanya ditentukan oleh tempat yang bagus, acara yang seru, atau persiapan yang dilakukan oleh kakak-kakak pengurus. Yang paling penting adalah penyertaan Tuhan di dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Karena itu, sebelum retreat berlangsung, ada satu hal yang sangat penting yang bisa kita lakukan bersama, yaitu berdoa.

 Melalui doa, kita mengundang Tuhan Yesus untuk memimpin seluruh rangkaian kegiatan retreat. Kita bisa berdoa agar Tuhan mempersiapkan hati setiap kita supaya datang dengan kerinduan untuk belajar firman-Nya. Kita juga bisa berdoa agar Tuhan memakai setiap pembicara yang akan melayani. Kiranya Tuhan memberikan hikmat kepada mereka sehingga firman yang disampaikan dapat dimengerti, menguatkan, dan menolong kita untuk semakin bertumbuh dalam iman.

Adik-adik juga bisa berdoa agar selama retreat berlangsung Tuhan menjaga perjalanan kita, memberi suasana yang penuh sukacita, serta menolong kita untuk saling membangun satu sama lain. Dengan demikian, retreat ini bukan hanya menjadi kegiatan biasa, tetapi menjadi momen di mana kita benar-benar mengalami pertumbuhan rohani.

Oleh karena itu, mari kita mengambil bagian dengan mendoakan retreat teruna ini. Walaupun terlihat sederhana, doa memiliki kuasa yang besar karena Tuhan mendengar setiap doa yang kita panjatkan dengan sungguh-sungguh.

Kiranya melalui doa-doa kita, Tuhan bekerja di tengah-tengah kegiatan retreat ini, sehingga kita semua yang hadir semakin mengenal Tuhan, semakin bertumbuh dalam iman, dan semakin mengasihi sesama.

Tuhan Yesus memberkati.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Rabu 11 Maret 2026

Hadirlah dalam Doa (Mazmur 145:18) 

by Kak Rahayu Widya

Mazmur 145:18

“Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.”

Di zaman sekarang, hidup kita penuh dengan banyak hal. Sekolah, tugas, teman, kegiatan, media sosial, dan berbagai kesibukan lainnya sering membuat hari terasa cepat sekali berlalu. Tanpa sadar kita bisa hadir di banyak tempat dan kegiatan, tetapi kadang justru lupa hadir di hadapan Tuhan.

Mazmur 145:18 mengatakan bahwa Tuhan dekat kepada setiap orang yang berseru kepada-Nya dengan setia. Artinya Tuhan sebenarnya selalu siap mendengar. Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk kita. Namun sering kali masalahnya bukan pada Tuhan yang jauh, melainkan kita yang jarang meluangkan waktu untuk datang kepada-Nya.

Doa bukan hanya soal meminta sesuatu kepada Tuhan. Doa adalah momen ketika kita benar-benar berhenti sejenak dari semua kesibukan dan datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur. Kita bisa cerita tentang apa yang kita rasakan, apa yang kita khawatirkan, atau bahkan hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan tidak menunggu kata-kata yang indah, Dia hanya rindu kita datang dan membuka hati.

Kadang kita berpikir doa harus panjang supaya berarti. Padahal yang Tuhan cari bukan panjangnya doa, tetapi hati yang mau hadir. Saat kita belajar hadir dalam doa, kita sedang membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan. Dari situlah Tuhan mulai menenangkan hati kita, memberi kekuatan, dan menolong kita melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Di tengah dunia yang penuh kesibukan dan distraksi, doa menjadi tempat di mana kita kembali diingatkan bahwa Tuhan selalu dekat. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan hadir atau tidak, tetapi apakah kita mau menyediakan waktu untuk hadir di hadapan-Nya.

Refleksi

Apakah selama ini aku benar-benar menyediakan waktu untuk hadir di hadapan Tuhan dalam doa?

Atau aku lebih sering datang kepada Tuhan hanya ketika sedang ada masalah?

Apa langkah kecil yang bisa aku mulai supaya doa menjadi bagian dari hidupku setiap hari?


Kiranya Roh Kudus melatih kita untuk membangun relasi yg baik dengan Tuhan lewat doa


Aminn

Tuhan Yesus memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Selasa 10 Maret 2026

Don’t Panic, Just Pray! (Filipi 4:6) 

by Kak Rahayu Widya

Filipi 4:6

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Dalam kehidupan sehari-hari, sering ada hal yang membuat kita panik. Misalnya saat nilai ujian jelek, ada masalah dengan teman, dimarahi orang tua, atau guru karna kesalahan yg kita perbuat

Sering kali yang kita lakukan pertama adalah panik, mengeluh, atau curhat ke teman, tetapi kita lupa datang kepada Tuhan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa ketika kita menghadapi kekhawatiran, kita diajak untuk membawa semuanya kepada Tuhan dalam doa.

Doa bukan hanya dilakukan saat di gereja atau saat ibadah. Doa bisa kita lakukan kapan saja dan di mana saja. Tuhan mau kita datang kepada-Nya terlebih dahulu sebelum kita tenggelam dalam kepanikan. Karena itu, ketika masalah datang ingatlah: Don’t Panic, Just Pray.

Supaya firman Tuhan ini tidak hanya didengar tetapi juga dilakukan, kita bisa mulai dengan hal-hal sederhana:

1. Jadikan doa sebagai respon pertama

Ketika ada masalah, berhenti sejenak dan berdoa. Tidak perlu doa panjang. Bahkan doa sederhana seperti: “Tuhan, tolong aku menghadapi ini.”

2. Ceritakan semuanya kepada Tuhan

Kadang kita merasa doa harus kata-katanya bagus. Padahal Tuhan hanya ingin kita jujur. Ceritakan saja apa yang kita rasakan: takut, sedih, bingung, atau marah.

3. Percaya Tuhan bekerja

Setelah berdoa, jangan terus menerus panik. Percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja, bahkan ketika kita belum melihat jawabannya.

4. Biasakan berdoa setiap saat

Kalau kita hanya berdoa saat ada masalah, hubungan kita dengan Tuhan akan terasa jauh. Tetapi jika kita berdoa setiap hari, hati kita akan lebih tenang saat menghadapi masalah.

Refleksi

Saat ade - ade menghadapi masalah, apakah kamu langsung panik atau langsung berdoa?

Apakah kamu sudah menjadikan doa sebagai kebiasaan setiap hari?

Setiap orang pasti menghadapi masalah dalam hidup. Bahkan ade - ade juga punya banyak hal yang bisa membuat takut atau khawatir. Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.

Tuhan selalu siap mendengar doa kita. Ketika kita datang kepada-Nya, Tuhan memberikan ketenangan dan kekuatan untuk menjalani setiap keadaan.

Karena itu, mulai hari ini mari kita belajar satu hal sederhana:

ketika masalah datang, jangan panik terlebih dahulu,tetapi berdoalah terlebih dahulu.

Ingat selalu: Don’t Panic, Just Pray.


Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk selalu berdoa dan bergantung kepada Tuhan

Amin

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Senin 09 Maret 2026

Prayer First (Mazmur 5:3) 

by Kak Dina Mabikafola 

Mazmur 5:3

"TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar suaraku; pada waktu pagi aku mengatur persembahanku kepada-Mu, dan aku menunggu-nunggu." 

Ade-ade saat ibadah hari minggu kemarin, pembicara Pnt.Edward Sinaga,menanyakan hal apa yang pertama kita lakukan setelah bangun tidur? Coba ada berapa orang nih yang berani angkat tangan dan jujur? 

Mari kita jujur pada diri sendiri. Saat bangun pagi, apa yang pertama kali kita lakukan? Sering kali bukan berdoa. Bukan membaca firman Tuhan. Yang pertama kita cari justru HP. Kita membuka chat, Instagram, TikTok, atau game. Kita punya waktu untuk melihat semua hal itu, tetapi sering berkata kepada Tuhan: "Tuhan, maaf ya, hari ini aku tidak sempat berdoa."

Padahal sebenarnya bukan tidak sempat, tetapi tidak mengutamakan Tuhan. Mazmur 5:3 menunjukkan hati Daud yang berbeda.

Ia berkata: “Pada waktu pagi Engkau mendengar suaraku.” Sebelum dunia berbicara kepadanya, Daud memilih berbicara kepada Tuhan terlebih dahulu. Yang menyedihkan bukanlah Tuhan tidak mendengar doa kita. Alkitab berkata Tuhan mendengar. Tetapi sering kali kita yang tidak lagi datang kepada Tuhan.

Kita datang kepada Tuhan hanya ketika ada masalah, mau ujian, saat patah hati, saat gagal. Tetapi ketika semuanya baik-baik saja, Tuhan sering menjadi yang terakhir kita cari.

Bayangkan jika kamu punya seorang sahabat dan dia hanya datang kepada kamu ketika dia butuh sesuatu. Pasti kita merasa sedih. Begitu juga hati Tuhan. Daud berkata: "Aku menunggu-nunggu Engkau." Ini menunjukkan kerinduan. Daud tidak hanya berdoa lalu pergi. Ia menantikan Tuhan bekerja. Sayangnya banyak dari kita hari ini tidak punya waktu pribadi dengan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan akhirnya hanya di gereja, bukan di kehidupan sehari-hari.

Jika hari ini kita lebih:

* menunggu notifikasi daripada firman Tuhan

* lebih bersemangat membuka HP daripada berdoa dan baca Firman Tuhan

* lebih banyak bicara dengan dunia daripada dengan Tuhan

mungkin hati kita sudah mulai menjauh dari Tuhan tanpa kita sadari. Dan yang paling berbahaya, kita merasa semuanya baik-baik saja.

Ade-ade mari kita ambil komitment, kita mulai dari hal sederhana Besok pagi, sebelum membuka HP…

sebelum melihat pesan apa pun… datanglah kepada Tuhan. Katakan: "Tuhan, hari ini aku mau memulai hariku bersama-Mu." Tidak perlu doa yang panjang. Yang Tuhan cari bukan kata-kata yang indah, tetapi hati yang mau datang kepada-Nya. Teruna yang kuat bukan yang paling terkenal bukan yang paling pintar, bukan yang paling banyak teman. Tetapi Teruna yang setiap pagi mencari Tuhan.

Karena ketika kita memulai hari dengan Tuhan, kita tidak berjalan sendirian. Dan suatu hari nanti kita akan menyadari, hubungan kita dengan Tuhanlah yang menjaga hidup kita tetap kuat....Amin

Tuhan Yesus Memberkati


Renungan Teruna, Jumat 06 Maret 2026

Praise as a LIFE STYLE (Mazmur 150:1-6) 

by Kak Dina Mabikafola 

Mazmur 150:1-6  

(1) Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! (2) Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! (3) Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! (4) Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! (5) Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! (6) Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Pagi ini, Rona mendengar kakanya Rina  kembali bersenandung, ia memuji-muji Tuhan sambil beraktivitas. Rona sungguh bersukacita mendengarnya karena dia tahu dengan pasti bahwa ketika kakanya bersenandung maka suasana hatinya sedang baik. 

Di sisi lain, ketika kakanya sedang marah, kecewa, atau sedih, jangankan bersenandung untuk berbicara saja dia sangat malas, bahkan Rona beberapa kali kena bentakan dan jawaban sinis dari Kakanya saat dia bertanya tentang sesuatu hal.

Mazmur 150 merupakan mazmur yang indah untuk mengakhiri kitab mazmur yang penuh dengan ungkapan hati dan perasaan dari penulisnya 

Mazmur 150 berbicara tentang memuji Tuhan dengan sangkakala, kecapi, rebana, tari-tarian, dan berbagai alat musik. Tapi ayat terakhir yaitu ayat yang ke-6 menegaskan sesuatu yang lebih dalam:

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

 “Segala yang bernafas” — artinya setiap kita yang bernafas

Sebagai remaja, kita suka bernyanyi di kamar, di kamar mandi, di gereja, bahkan sambil scrolling media sosial. Tapi Mazmur 150:6 mengingatkan bahwa bernyanyi bukan cuma soal musik, melainkan respon hidup kepada Tuhan

Kalau kita masih bernafas, berarti kita punya alasan untuk memuji. Artinya, pujian bukan acara mingguan, tapi gaya hidup harian

Apa Itu “Bernyanyi sebagai Gaya Hidup”?

Bernyanyi sebagai gaya hidup berarti:

Tetap memuji Tuhan saat keadaan baik maupun tidak baik, tetap percaya saat keadaan sulit, Mengucap syukur walau doa dan harapan kita belum dijawab

Sebagai anak Tuhan mari kita jadikan menyanyi sebagai gaya hidup,

Bukan cuma suara yang memuji,tapi hati yang bersyukur,pikiran yang positif,dan tindakan yang memuliakan Tuhan.

Mazmur 150 tidak menyebutkan masalah atau keadaan. Artinya, pujian tidak tergantung situasi, seperti Rina kaka Rona diatas, saat keadaan hatinya baik-baik saja dia memuji Tuhan, tetapi saat kecewa, sedih, marah tidak ada pujian keluar dari mulutnya

Sering kali kita memuji Tuhan ketika hidup berjalan baik, saat doa dijawab, saat nilai bagus, saat keluarga damai, atau ketika semuanya terasa lancar. Tetapi bagaimana ketika hidup terasa berat? Ketika masalah datang, hati sedih, atau doa terasa belum dijawab? Sepertinya sangat berat untuk kita memuji Tuhan

Memuji Tuhan dalam keadaan sulit bukan berarti kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Memuji Tuhan saat keadaan tidak baik-baik saja berarti  kita memilih percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Kalau hari ini kita masih bernafas, itu alasan yang cukup untuk memuji Dia.

Tuhan mencari hati yang sungguh-sungguh.

Karena itu, selama kita masih bernafas, mari jadikan hidup kita sebagai penyembahan bagi-Nya.

“Saat hati kita sungguh mengasihi Tuhan, maka pujian kita bukan sekadar lagu, tetapi menjadi gaya hidup “Praise as a lifestyle”

Tuhan Yesus Memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini

Renungan Teruna, Kamis 05 Maret 2026

Menebarkan Senyum (Amsal 15:13) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Amsal 15:13

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.

Senyum adalah hal sederhana, tetapi memiliki dampak yang luar biasa. Senyum dapat mencairkan suasana, meredakan ketegangan, dan menghadirkan kehangatan dalam relasi. Namun bagi orang percaya, senyum bukan sekadar ekspresi wajah, melainkan pancaran dari hati yang dipenuhi oleh damai dan sukacita dari Tuhan.

Di tengah dunia yang penuh tekanan, persaingan, dan kecemasan, menebarkan senyum adalah sebuah panggilan rohani. Senyum menjadi wujud nyata dari kasih dan pengharapan yang kita miliki di dalam Kristus.

1. Senyum yang Bersumber dari Hati

Senyum sejati bukanlah kepura-puraan, melainkan lahir dari hati yang bersandar kepada Tuhan. Ketika hati dipenuhi rasa syukur, damai, dan pengharapan, maka wajah pun akan memancarkan ketenangan. Mazmur 126:2 berkata: "Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa dan lidah kita dengan sorak-sorai". Senyum yang berasal dari hati yang percaya kepada Tuhan menjadi kesaksian tanpa banyak kata.

2. Senyum sebagai bentuk Pelayanan

Sering kali kita berpikir pelayanan harus sesuatu yang besar. Namun senyum yang tulus pun dapat menjadi pelayanan yang berarti. Dalam Roma 12:15 tertulis: "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis". Senyum bisa menjadi simbol kepedulian, awal dari hubungan yang dipulihkan dan penguat bagi mereka yang lagi lelah. Satu senyum yang tulus dapat mengubah hari seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, atau gereja. Senyum dapat menjadi alat Tuhan untuk menyatakan kasih-Nya.

3. Tantangan dalam Menebarkan Senyum

Tidak setiap hari mudah untuk tersenyum. Ada masalah, kekecewaan, bahkan pergumulan pribadi yang membuat hati terasa berat. Namun menebarkan senyum bukan berarti menyangkal kenyataan, melainkan memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan memegang kendali.

Nehemia 8:10 mengingatkan kita: "Sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu."

Ketika kita mengandalkan Tuhan, kita dimampukan untuk tetap menghadirkan damai di tengah badai kehidupan.

Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari :

1. Mulailah hari dengan ucapan syukur = Hati yang bersyukur lebih mudah tersenyum.

2. Latih diri untuk bersikap ramah = Senyum adalah bentuk keramahan yang paling sederhana.

3. Jadilah pembawa suasana yang positif =  Hindari sikap yang mudah mengeluh atau menyebarkan energi negatif.

4. Biarkan Kristus terpancar melalui sikap kita =  Senyum yang tulus adalah refleksi kasih Tuhan dalam diri kita.

Menebarkan senyum mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki kuasa yang besar. Senyum yang lahir dari hati yang percaya kepada Tuhan dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Kiranya melalui senyum kita, orang lain dapat merasakan kehangatan kasih Kristus dan melihat terang-Nya dalam kehidupan kita.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Rabu 04 Maret 2026

"Tertawa" (Mazmur 126:2-3) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Mazmur 126:2-3

Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: ”Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.

Pujian yang dinyanyikan oleh adik-adik dalam ibadah Minggu kemarin bukan sekedar lagu biasa, lagu tersebut mengingatkan kita bahwa sukacita dalam Tuhan bukanlah sukacita yang sementara. Lagu “Tertawa” dari GMS membawa kita pada sebuah perenungan mendalam bahwa ketika kita mengalami karya dan kasih Tuhan, respons yang lahir bukan lagi keluhan, melainkan sukacita yang meluap bahkan sampai tertawa.

Adik-adik yang dikasihi Tuhan, kita akan bahas lirik lagu tersebut satu persatu

Lagu tersebut mengatakan “Karya-Mu mempesonaku, Kau angkatku dari kelam”. Bagian ini menekankan inisiatif Allah. Kitalah yang sering terjebak dalam “kelam” — kegelapan dosa, kekecewaan, kegagalan, atau pergumulan hidup. Namun Tuhan tidak membiarkan kita tinggal di sana. Ia mengangkat kita. Seperti tertulis dalam Kolose 1:13 yang mengatakan "Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih."

Sukacita sejati lahir ketika kita menyadari bahwa keselamatan dan pemulihan adalah karya Tuhan, bukan usaha kita semata.

Berikutnya Lagu tersebut mengatakan “Kasih tulus memberi warna”. Tanpa kasih Tuhan, hidup manusia cenderung monoton dan hampa. Kasih-Nya memberi “warna”, memberi makna, arah, dan harapan.

Kasih Tuhan bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata melalui pengorbanan Kristus. Kasih itulah yang mengubah perspektif hidup kita. Ketika kita menyadari kita dikasihi tanpa syarat, hati kita dipenuhi rasa syukur yang mendalam.

Berikutnya Lagu tersebut mengatakan “Kau buang semua gelisah”. Kegelisahan sering menjadi bagian dari kehidupan kita: tekanan sekolah, pergaulan, masa depan, ekspektasi orang tua, bahkan pelayanan. Namun lagu ini mengingatkan bahwa Tuhan sanggup menyingkirkan kecemasan itu. Filipi 4:6-7 berkata, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga… dan damai sejahtera Allah… akan memelihara hati dan pikiranmu."

Damai sejahtera Tuhan tidak selalu mengubah situasi secara instan, tetapi mengubah hati kita sehingga kita mampu menghadapi situasi dengan tenang.

Adik-adik lagu “Tertawa” di sini bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi simbol kemenangan dan pembebasan. Ketika Tuhan memulihkan, respons alami orang percaya adalah sukacita yang tidak dapat dibendung. Tertawa menjadi gambaran bahwa beban telah diangkat dan hati telah dimerdekakan. Sukacita dalam Tuhan adalah kekuatan. Artinya, orang yang bersukacita dalam Tuhan memiliki daya tahan rohani yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Aplikasi yang bisa kita lakukan dalam Kehidupan Sehari-hari adalah:

1. Belajar melihat karya Tuhan di balik setiap musim hidup. 

Jangan hanya fokus pada masalah, tetapi latih diri untuk melihat bagaimana Tuhan sedang bekerja. Setiap pertolongan kecil adalah alasan untuk bersyukur.

2. Mengganti keluhan dengan ucapan syukur.

Ketika mulai gelisah, berhenti sejenak dan ingat kebaikan Tuhan. Ucapan syukur membuka ruang bagi sukacita.

3. Menjadikan hadirat Tuhan sebagai sumber ketenangan.

Melalui doa, membaca Firman, dan persekutuan, kita membiarkan Tuhan “membuang gelisah” dalam hati kita.

4. Menjadi pembawa sukacita bagi orang lain.

Ketika kita dipenuhi sukacita dari Tuhan, kita akan memancarkan semangat, pengharapan, dan energi positif di sekolah, rumah, dan gereja.

Jadi adik-adik, Lagu “Tertawa” bukan hanya nyanyian yang indah, tetapi pengakuan iman: bahwa karya dan kasih Tuhan sanggup mengubah kelam menjadi terang, gelisah menjadi damai, dan tangisan menjadi tawa. Kiranya setiap kali kita menyanyikannya, kita tidak hanya menikmati musiknya, tetapi mengalami kebenarannya. Sebab ketika Tuhan berkarya dalam hidup kita, mulut kita akan dipenuhi dengan tertawa, bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena kita percaya kepada Pribadi yang memegang kendali atas segalanya.

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Selasa 03 Maret 2026

Ready, Set, Rejoice! (Filipi 4:4) 

by Kak Rahayu Widya

Filipi 4:4

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Retreat kita sudah semakin dekat. Mungkin ada yang merasa excited, tidak sabar, atau penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti. Dan itu wajar, karena retreat bukan sekadar kegiatan biasa, tetapi momen khusus di mana Tuhan rindu menjumpai kita secara pribadi.

Tema renungan kita hari ini Ready, Set, Rejoice! Mengajak kita bukan hanya bersukacita menyambut retreat, tetapi juga mempersiapkan hati dengan benar.

Ready berarti kita menyiapkan hati. Bukan datang ke retreat dengan hati biasa saja, tetapi dengan kerinduan: “Tuhan, aku mau Engkau berbicara dan bekerja dalam hidupku.”

Set berarti kita menata fokus. Belajar melepaskan distraksi, kesibukan, bahkan beban yang kita bawa, supaya hati kita benar-benar tertuju kepada Tuhan selama retreat.

Rejoice berarti kita bersukacita. Bukan hanya karena acaranya seru atau bersama teman-teman, tetapi karena kita percaya Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah dan penuh makna bagi hidup kita.

Hari ini kita belajar tiga hal penting:

1. Kita mempersiapkan hati untuk bertemu Tuhan (Ready)

2. Kita menata hidup dan fokus kepada Tuhan (Set)

3. Kita bersukacita karena percaya Tuhan akan bekerja (Rejoice)

Retreat bukan hanya soal pergi bersama, tetapi tentang pulang dengan hati yang diubahkan. Siapa yang datang dengan hati siap, akan mengalami sukacita yang sejati karena Tuhan menjamah hidupnya.

Refleksi

Apakah aku hanya siap ikut retreat secara fisik?

Atau aku juga siap secara hati untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan?

Kiranya menjelang retreat ini, hati kita benar-benar dipersiapkan. Datang dengan kerinduan, fokus kepada Tuhan, dan penuh sukacita karena percaya Tuhan pasti bekerja.

Kiranya Roh Kudus menolong ade-ade untuk siap hati, siap diubahkan, dan bersukacita menyambut retreat yang Tuhan sudah siapkan.

Aminn

Selamat mempersiapkan hati yaa

Tetap semangat dan bersukacita!

Tuhan Yesus memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini


Renungan Teruna, Senin 02 Maret 2026

Blessed Today, Be a Blessing Someday (2 Korintus 9:11) 

by Kak Rahayu Widya

2 Korintus 9:11

Kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah.

Kemarin adalah momen yang sangat spesial bagi kita. Lewat penggalangan dana, kita melihat kasih Tuhan nyata melalui jemaat yang dengan sukacita memberi untuk mendukung  retreat teruna.

Saat ini kita bukan pihak yang memberi, tetapi kita adalah pihak yang menerima berkat. Dan respon yang paling tepat dari hati yang menerima berkat adalah bersyukur.

Kita bersyukur karena Tuhan menggerakkan hati banyak orang untuk peduli pada pelayanan kita. Kita bersyukur karena lewat dukungan mereka, kita bisa terus bertumbuh, melayani, dan melakukan kegiatan yang memuliakan Tuhan.

Namun, berkat yang kita terima kemarin bukan untuk membuat kita nyaman saja.

Berkat ini adalah pengingat bahwa besok/suatu hari nanti, kita juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Hari ini kita belajar dua hal penting:

1. Ada sukacita saat menerima berkat dari Tuhan melalui orang lain

2. Ada panggilan Tuhan supaya kelak kita juga menyalurkan berkat itu

Mungkin hari ini kita masih menjadi generasi yang didukung, didoakan, dan diberkati.

Tetapi suatu saat nanti, kita yang akan berdiri menjadi generasi yang memberi, menopang pelayanan, dan memberkati banyak orang. Atau ade - ade sudah bisa belajar memberi dari uang saku ade - ade untuk memberkati teman - teman ade - ade yg kekurangan

Karena itu, momen galang dana kemarin bukan hanya soal dana yang terkumpul, tetapi tentang hati yang belajar berkata: “Tuhan, terima kasih. Suatu hari nanti, aku juga mau menjadi berkat seperti mereka.”


Refleksi

Apakah hari ini aku hanya senang karena menerima?

Atau aku sungguh bersyukur dan rindu suatu hari nanti dipakai Tuhan untuk memberi dan memberkati?


Semoga sukacita kemarin tidak berhenti sebagai rasa senang sesaat, tetapi menjadi komitmen dalam hati. Aku yang hari ini diberkati, kelak akan dipakai Tuhan menjadi berkat.

Kiranya Roh Kudus menggerakan hati ade - ade untuk menjadi berkat bagi orang lain 

Aminn

Selamat hari Senin

Semangat selalu yaa

Tuhan Yesus memberkati

Kamu bisa mendengarkan renungan disini