"Tertawa" (Mazmur 126:2-3)
by Kak Daniel Hutauruk
Mazmur 126:2-3
Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: ”Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
Pujian yang dinyanyikan oleh adik-adik dalam ibadah Minggu kemarin bukan sekedar lagu biasa, lagu tersebut mengingatkan kita bahwa sukacita dalam Tuhan bukanlah sukacita yang sementara. Lagu “Tertawa” dari GMS membawa kita pada sebuah perenungan mendalam bahwa ketika kita mengalami karya dan kasih Tuhan, respons yang lahir bukan lagi keluhan, melainkan sukacita yang meluap bahkan sampai tertawa.
Adik-adik yang dikasihi Tuhan, kita akan bahas lirik lagu tersebut satu persatu
Lagu tersebut mengatakan “Karya-Mu mempesonaku, Kau angkatku dari kelam”. Bagian ini menekankan inisiatif Allah. Kitalah yang sering terjebak dalam “kelam” — kegelapan dosa, kekecewaan, kegagalan, atau pergumulan hidup. Namun Tuhan tidak membiarkan kita tinggal di sana. Ia mengangkat kita. Seperti tertulis dalam Kolose 1:13 yang mengatakan "Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih."
Sukacita sejati lahir ketika kita menyadari bahwa keselamatan dan pemulihan adalah karya Tuhan, bukan usaha kita semata.
Berikutnya Lagu tersebut mengatakan “Kasih tulus memberi warna”. Tanpa kasih Tuhan, hidup manusia cenderung monoton dan hampa. Kasih-Nya memberi “warna”, memberi makna, arah, dan harapan.
Kasih Tuhan bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata melalui pengorbanan Kristus. Kasih itulah yang mengubah perspektif hidup kita. Ketika kita menyadari kita dikasihi tanpa syarat, hati kita dipenuhi rasa syukur yang mendalam.
Berikutnya Lagu tersebut mengatakan “Kau buang semua gelisah”. Kegelisahan sering menjadi bagian dari kehidupan kita: tekanan sekolah, pergaulan, masa depan, ekspektasi orang tua, bahkan pelayanan. Namun lagu ini mengingatkan bahwa Tuhan sanggup menyingkirkan kecemasan itu. Filipi 4:6-7 berkata, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga… dan damai sejahtera Allah… akan memelihara hati dan pikiranmu."
Damai sejahtera Tuhan tidak selalu mengubah situasi secara instan, tetapi mengubah hati kita sehingga kita mampu menghadapi situasi dengan tenang.
Adik-adik lagu “Tertawa” di sini bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi simbol kemenangan dan pembebasan. Ketika Tuhan memulihkan, respons alami orang percaya adalah sukacita yang tidak dapat dibendung. Tertawa menjadi gambaran bahwa beban telah diangkat dan hati telah dimerdekakan. Sukacita dalam Tuhan adalah kekuatan. Artinya, orang yang bersukacita dalam Tuhan memiliki daya tahan rohani yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup.
Aplikasi yang bisa kita lakukan dalam Kehidupan Sehari-hari adalah:
1. Belajar melihat karya Tuhan di balik setiap musim hidup.
Jangan hanya fokus pada masalah, tetapi latih diri untuk melihat bagaimana Tuhan sedang bekerja. Setiap pertolongan kecil adalah alasan untuk bersyukur.
2. Mengganti keluhan dengan ucapan syukur.
Ketika mulai gelisah, berhenti sejenak dan ingat kebaikan Tuhan. Ucapan syukur membuka ruang bagi sukacita.
3. Menjadikan hadirat Tuhan sebagai sumber ketenangan.
Melalui doa, membaca Firman, dan persekutuan, kita membiarkan Tuhan “membuang gelisah” dalam hati kita.
4. Menjadi pembawa sukacita bagi orang lain.
Ketika kita dipenuhi sukacita dari Tuhan, kita akan memancarkan semangat, pengharapan, dan energi positif di sekolah, rumah, dan gereja.
Jadi adik-adik, Lagu “Tertawa” bukan hanya nyanyian yang indah, tetapi pengakuan iman: bahwa karya dan kasih Tuhan sanggup mengubah kelam menjadi terang, gelisah menjadi damai, dan tangisan menjadi tawa. Kiranya setiap kali kita menyanyikannya, kita tidak hanya menikmati musiknya, tetapi mengalami kebenarannya. Sebab ketika Tuhan berkarya dalam hidup kita, mulut kita akan dipenuhi dengan tertawa, bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena kita percaya kepada Pribadi yang memegang kendali atas segalanya.
Kamu bisa mendengarkan renungan disini
