Asal Komentar (Yakobus 1:19)
by Kak Rahayu Widya
Yakobus 1:19
Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah
Belakangan ini, kita bisa melihat bagaimana sebuah pernyataan dari seorang menteri bisa dengan cepat menjadi viral dan menuai banyak komentar dari berbagai pihak.
Bukan hanya membahas inti persoalan, tetapi juga berkembang menjadi perdebatan, kritik, bahkan serangan opini.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: orang sering lebih cepat berkomentar daripada memahami.
Di era media sosial, semua orang punya ruang untuk bersuara.
Namun sayangnya, tidak semua suara membawa kebenaran atau membangun.
Banyak yang ikut berkomentar bukan karena benar-benar mengerti, tetapi karena merasa perlu ikut berbicara.
Yang penting merespon, bukan memahami. Yang penting ikut ramai, bukan ikut peduli.
Firman Tuhan dalam Yakobus 1:19 justru mengajarkan kebalikan:
cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.
Artinya, sebagai orang percaya, kita tidak dipanggil untuk menjadi yang paling cepat bersuara,tetapi yang paling bijak dalam merespon.
Sebelum berbicara, kita belajar mendengar.
Sebelum menilai, kita belajar memahami.
Sebelum bereaksi, kita belajar menahan diri.
Karena tidak semua hal perlu dikomentari.
Dan tidak semua yang bisa kita katakan, harus kita katakan.
Dunia mungkin mendorong kita untuk selalu punya opini.
Tetapi firman Tuhan mengajarkan kita untuk punya hikmat.
Refleksi:
* Apakah aku sering ikut berkomentar tanpa benar-benar memahami?
* Apakah aku lebih ingin didengar, daripada belajar mendengar?
* Apakah perkataanku membawa damai atau justru menambah keributan?
Di tengah dunia yang ramai dengan suara, Tuhan tidak mencari siapa yang paling banyak bicara,
tetapi siapa yang paling bijak dalam berkata-kata.
Menjadi dewasa dalam iman bukan terlihat dari seberapa cepat kita merespon,
tetapi dari seberapa dalam kita mampu menahan diri.
Kiranya Roh kudus memberikan hikmatNya bagi kita untuk bisa menahan diri dalam berkomentar sebelum memahami
Amin
Kamu bisa mendengarkan renungan disini
