Renungan Teruna, Senin 09 Februari 2026

Connected with Jesus (Amsal 3:5-6) 

by Kak Daniel Hutauruk 

Amsal 3:5-6

(5) Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (6) Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 

Sering kali masalah utama dalam kehidupan rohani bukanlah karena Tuhan tidak hadir, melainkan karena hubungan kita dengan Tuhan tidak terjaga. Kita percaya Tuhan ada, kita tahu Tuhan mengasihi kita, tetapi dalam praktik sehari-hari, koneksi itu sering terputus. Bukan terputus total, melainkan melemah karena jarang dipelihara.

Kesibukan menjadi salah satu penyebab utama hubungan itu merenggang. Jadwal yang padat, tuntutan akademik, tekanan pergaulan, dan berbagai tanggung jawab membuat kita lebih fokus pada apa yang harus diselesaikan daripada dengan siapa kita berjalan. Akibatnya, Tuhan tetap kita akui, tetapi tidak selalu kita libatkan. Hidup yang connected dengan Tuhan bukan hanya tentang percaya kepada-Nya, tetapi tentang hidup dalam kesadaran akan kehadiran-Nya. Saat koneksi ini terjaga, Tuhan tidak hanya menjadi tujuan doa, tetapi menjadi sumber arah, kekuatan, dan hikmat dalam setiap keputusan. Sebaliknya, ketika koneksi ini melemah, iman mudah menjadi rutinitas tanpa relasi. Banyak orang ingin pertolongan Tuhan, tetapi tidak membangun kedekatan dengan Tuhan. Kita ingin jawaban doa, tetapi jarang menyediakan waktu untuk mendengar suara-Nya. Kita berharap Tuhan menuntun langkah kita, tetapi sering melangkah terlebih dahulu tanpa meminta pimpinan-Nya. Di sinilah koneksi rohani menjadi tidak seimbang.

            Tuhan rindu agar kita hidup terhubung secara terus-menerus, bukan hanya sesekali. Koneksi ini dibangun melalui sikap hati yang mau bersandar kepada Tuhan, ketaatan pada firman-Nya, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita membutuhkan Dia setiap hari. Hidup yang connected bukan hidup tanpa masalah, tetapi hidup yang tetap melekat pada Tuhan di tengah masalah. Ketika kita menjaga koneksi dengan Tuhan, hidup kita akan diarahkan, bukan dikendalikan oleh tekanan. Kita tidak mudah kehilangan arah, karena kita tahu kepada siapa kita terhubung. Inilah iman yang hidup—iman yang berjalan bersama Tuhan dalam keseharian. Kiranya kita tidak hanya berkata bahwa kita mengenal Tuhan, tetapi sungguh-sungguh hidup connected dengan-Nya, hari demi hari.

 Kamu bisa mendengarkan renungan disini! 

 Kamu bisa menyaksikan renungan disini!