Renungan Teruna, Selasa 17 Maret 2026

EMOSI (Efesus 4:31-32) 

by Kak Dina Mabikafola 

Efesus 4:31–32

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Matius 5 : 9

Berbahagialah orang yang membawa damai.

Hari Sabtu tanggal 14 maret minggu lalu, terjadi tawuran antara pelajar SMAN 5 Bandung dan SMAN 2 Bandung di kawasan Cihampelas. Peristiwa yang terjadi setelah kegiatan buka puasa bersama itu berujung tragis karena satu siswa meninggal dunia akibat dugaan pengeroyokan. 

Video kejadian tersebut viral di media sosial dan membuat banyak orang sedih sekaligus prihatin melihat bagaimana konflik antar pelajar bisa sampai merenggut nyawa. 

Peristiwa ini bukan hanya soal tawuran. Ini juga menjadi cermin bagi generasi muda tentang bagaimana emosi, gengsi, dan tekanan kelompok bisa membuat seseorang melakukan hal yang sangat fatal.

Ade-ade coba bayangkan ..
Mungkin pada sore hari itu semuanya masih terasa biasa saja.
Ada yang: bercanda dengan teman, main HP, pulang sekolah, bersiap Bukber, merencanakan masa depan. Tidak ada yang berpikir bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir bagi seseorang.

Satu pertengkaran.
Satu emosi yang tidak terkendali.
Satu keputusan yang salah.
ada hidup banyak orang berubah selamanya.

Ade-ade tawuran tidak pernah dimulai di Jalan, tawuran sebenarnya tidak dimulai ketika orang mulai memukul. Tawuran dimulai jauh sebelumnya yaitu di hati.,saat seseorang berkata dalam hati:
 “Aku tidak terima dihina.” Aku harus balas
Sedikit demi sedikit amarah bertumbuh seperti api kecil.
Dan jika tidak dihentikan, api kecil itu bisa membakar semuanya.

Sering kali orang hanya melihat perkelahian yang terjadi.
Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang lebih dalam yaitu hati kita.
Yesus tahu:
* ketika kita menyimpan dendam
* ketika kita ingin membalas
* ketika kita membenci seseorang
Dan Yesus tahu bahwa hati yang dipenuhi amarah tidak pernah membawa damai.

Hari ini ada keluarga yang kehilangan anak.
Ada orang tua yang mungkin masih berkata:
“Seandainya waktu bisa diputar kembali.”

Ada teman yang mungkin menyesal:
“Seandainya aku menghentikannya.”

Tetapi hidup tidak bisa diputar ulang.

Itulah sebabnya Tuhan memperingatkan kita sebelum semuanya terlambat. kita Dipanggil Berbeda
Dunia sering berkata:
* “Kalau dihina, balas.”
* “Kalau diserang, lawan.”
* “Jangan terlihat lemah.”
Tetapi Yesus berkata sesuatu yang berbeda:
 “Berbahagialah orang yang membawa damai.” (Matius 5:9)
Menjadi pembawa damai bukan berarti lemah.
Justru dibutuhkan hati yang jauh lebih kuat untuk:
* menahan amarah
* mengampuni
* tidak membalas

Sebagai remaja, kita sering berada di situasi seperti ini:
* ikut teman karena takut dianggap pengecut
* terbawa emosi ketika dihina
* membela “nama sekolah” atau kelompok
* merasa keren ketika ikut keributan
Tetapi Tuhan memanggil kita bukan menjadi pembuat masalah, melainkan pembawa damai.*
Kadang kita berpikir:
 “Ah cuma tawuran biasa.”
Namun kenyataannya:
* satu keluarga kehilangan anak
* masa depan seseorang hilang
* banyak orang menyesal seumur hidup
Satu keputusan yang salah bisa mengubah hidup selamanya.

# Apa yang Tuhan Mau untuk kita lakukan sebagai remaja Kristen?

1. Berani berkata tidak
Kadang keberanian terbesar bukan ikut berkelahi, tetapi menolak ikut keributan.

 2. Jangan hidup demi gengsi
Yesus tidak pernah mengajarkan kita untuk membela harga diri dengan kekerasan.

3. Jadilah pembawa damai
Remaja Kristen dipanggil untuk menjadi penyejuk di tengah konflik, bukan pemicu.

Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk berubah.
Hati yang keras bisa dilembutkan.
Hati yang penuh amarah bisa dipenuhi kasih.
Jika Kristus memerintah dalam hati kita, kita tidak akan menjadi sumber kekerasan.
Kita akan menjadi sumber damai. bagi kemuliaan namaNya..Amin