Hiperbola (Amsal 18:21)
by Kak Rahayu Widya
Amsal 18:21
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali tanpa disadari kita menggunakan ungkapan yang berlebihan atau hiperbola, terutama saat sedang berada dalam tekanan emosi. Kalimat seperti, “tidak ada satu pun yang peduli,” atau “semuanya selalu gagal,” kerap muncul sebagai bentuk luapan perasaan. Padahal, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.
Penggunaan hiperbola dalam kondisi emosional dapat memengaruhi cara seseorang memandang hidup. Apa yang awalnya hanya ungkapan sesaat, perlahan dapat membentuk pola pikir yang keliru. Seseorang bisa mulai meyakini bahwa situasinya benar-benar seburuk yang diucapkan, sehingga semakin sulit melihat sisi positif atau pengharapan yang Tuhan sediakan.
Firman Tuhan dalam Amsal 18:21 menegaskan bahwa hidup dan mati dikuasai oleh lidah. Hal ini menunjukkan bahwa perkataan memiliki kuasa yang besar bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Kata-kata yang diucapkan secara terus-menerus dapat membangun atau justru meruntuhkan.
Tuhan tidak melarang umat-Nya untuk menyatakan perasaan dengan jujur. Namun, kejujuran berbeda dengan melebih-lebihkan keadaan. Kejujuran mengakui realitas dengan benar, sedangkan hiperbola cenderung memperbesar masalah hingga melampaui kebenaran.
Oleh karena itu, penting bagi setiap orang percaya, termasuk ade - ade teruna, untuk belajar mengendalikan perkataan. Saat menghadapi kesulitan, kita diajak untuk tetap jujur, tetapi juga bijaksana dalam menyampaikan apa yang dirasakan. Mengakui bahwa keadaan sedang tidak mudah adalah benar, tetapi menyimpulkan bahwa semuanya buruk atau tidak ada harapan adalah bentuk distorsi yang perlu dihindari.
Ketika kita mulai membiasakan diri untuk berkata sesuai kebenaran, maka cara pandang kita pun akan diperbarui. Kita tidak lagi terjebak dalam emosi yang diperbesar, melainkan belajar melihat hidup dengan lebih jernih dan penuh pengharapan di dalam Tuhan.
Refleksi:
Luangkan waktu sejenak untuk merenungkan:
Apakah selama ini saya sering menggunakan kata-kata yang berlebihan saat menghadapi masalah?
Apakah perkataan saya membantu saya melihat kebenaran, atau justru memperbesar beban yang ada?
Bagaimana saya dapat mulai melatih diri untuk berbicara dengan lebih jujur dan bijaksana?
Kiranya Roh Kudus memampukan setiap kita untuk belajar menggunakan perkataan dengan tepat, sehingga apa yang kita ucapkan menjadi sarana yang membangun, bukan melemahkan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Kamu bisa mendengarkan renungan disini
