Paradox (Efesus 4:31-32)
by Kak Rahayu Widya
Efesus 4:31-32
(31) Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. (32)Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Pernah nggak sih kita sadar, justru orang yang paling dekat dengan kita keluarga, sahabat, atau orang yang kita sayang malah jadi “sasaran” emosi kita? Hal kecil bisa jadi besar, nada bicara jadi lebih tinggi, bahkan kata-kata yang keluar lebih tajam dibanding saat kita berbicara dengan orang lain.
Fenomena ini sering disebut safety paradox. Kita merasa aman dengan orang-orang terdekat, jadi kita menurunkan “filter” kita. Kita tahu mereka menerima kita apa adanya, tidak mudah meninggalkan kita, sehingga tanpa sadar kita jadi lebih bebas mengekspresikan emosi termasuk amarah, kecewa, dan luka yang belum selesai.
Masalahnya, rasa aman itu sering kita salah gunakan. Bukannya menjadikan hubungan semakin hangat, justru jadi tempat pelampiasan emosi yang tidak sehat. Kita lupa bahwa orang terdekat juga punya hati yang bisa terluka.
Firman Tuhan dalam Efesus 4:31-32 dengan jelas berkata: buanglah segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Ini bukan pilihan, tapi perintah. Dan menariknya, ayat ini tidak memberi pengecualian tidak ada bagian yang bilang “kecuali kalau itu ke orang terdekat.”
Sebaliknya, kita diminta untuk ramah, penuh kasih, dan saling mengampuni. Artinya, standar kasih Tuhan justru harus paling nyata dalam hubungan yang paling dekat dengan kita. Bukan hanya baik di luar, tapi juga lembut di rumah. Bukan hanya sabar dengan orang lain, tapi juga penuh kasih kepada mereka yang setiap hari bersama kita.
Mengasihi orang terdekat memang tidak selalu mudah. Karena kita melihat kekurangan mereka lebih jelas, dan mereka juga melihat sisi terburuk kita. Tapi justru di situlah Tuhan sedang membentuk karakter kita belajar mengendalikan emosi, belajar berkata dengan kasih, dan belajar mengampuni seperti Tuhan sudah lebih dulu mengampuni kita.
Refleksi:
Coba renungkan hari ini:
Apakah aku merasa “terlalu aman” sehingga membiarkan emosiku melukai orang terdekat?
Apakah kata-kataku lebih keras kepada mereka dibanding kepada orang lain?
Apa langkah nyata yang bisa aku ambil hari ini untuk memperbaiki sikapku mungkin dengan meminta maaf, atau mulai belajar menahan respon?
Kedekatan seharusnya menjadi tempat yang paling aman untuk bertumbuh dalam kasih, bukan tempat paling mudah untuk saling melukai. Tuhan rindu kita bukan hanya terlihat baik di luar, tapi benar-benar memiliki hati yang lembut terutama kepada mereka yang paling dekat dengan kita.
Kiranya Roh Kudus menolong kita supaya kita dapat memancarkan kasih dimulai dari orang - orang terdekat
Amin
